{"title":"Memberitakan Injil Tanpa Upah berdasarkan 1 Korintus 9:18 bagi Pelayanan Hamba Tuhan","authors":"Yohanes Telaumbanua","doi":"10.57058/juar.v6i1.90","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Serving God is a special calling for everyone. The response to the call is strongly influenced by the motivation of each individual. The motivation possessed by a person determines the goals to be achieved while serving. It cannot be denied that in this demanding era, every servant of God has a competitive lifestyle, namely: not wanting to be difficult, not wanting to be out of date. The motivation possessed by a person determines the goals to be achieved while serving. then the ministry of God's servant changed direction and motivation to serve. To overcome this problem, the author raises a Bible character named Paul, who is so persistent in serving God, that he says \"I preach the gospel without reward\" I Corinthians 9:18. The context is close to the text of verses 15-18, where Paul explains his rights to everyone at that time. In verse 12 Paul compares himself to other ministries that have the right to work, even though Paul already has a Climax of thought and calling as written in 1 Corinthians 9:18, The writer uses descriptive exegetical-qualitative method. Where the author will provide the correct interpretation of the preaching of the gospel as a reward for the results of exegesis. Thus answering the misunderstanding of the meaning of wages in service. So that God's servants get a new understanding of merit and return to serve God with pure motivation. The author concludes that it is very important for every servant of God to purify his motivation in serving, so that true, pure ministry is created in carrying out noble responsibilities, namely preaching the Gospel to everyone. our reward comes from God. Keep in mind, the wrong motivation in serving will damage the ministry.\n \nMelayani Tuhan merupakan panggilan khusus bagi setiap orang. Respon terhadap panggilan tersebut sangat dipengaruhi oleh motivasi masing-masing individu. Motivasi yang dimiliki oleh seseorang menentukan tujuan yang akan dicapainya selama mengabdi. Tidak dapat dipungkiri bahwa di zaman yang serba menuntut ini, terdapat gaya hidup kompetitif yang dimiliki setiap hamba Tuhan, yaitu: tidak mau susah, tidak mau ketinggalan zaman. Motivasi yang dimiliki oleh seseorang menentukan tujuan yang akan dicapainya selama mengabdi. kemudian pelayanan hamba Tuhan berubah arah dan motivasi melayani. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penulis mengangkat tokoh Alkitab yang bernama Paulus, yang betapa gigihnya ia dalam melayani Tuhan, hingga ia berkata “Aku memberitakan Injil tanpa upah” I Korintus 9:18. Konteks dekat dengan teks dari ayat 15-18, dimana Paulus menjelaskan hak-haknya kepada semua orang pada saat itu. Pada ayat 12 Paulus membandingkan dirinya dengan pelayanan lain yang mempunyai hak dari pekerjaannya, walaupun demikian Paulus telah memiliki Klimaks pemikiran dan panggilannya sebagaimana yang tertulis 1 Korintus 9:18, Penulis menggunakan metode deskriptif eksegetis-kualitatif. Dimana penulis akan memberikan tafsir yang benar mengenai pemberitaan injil sebagai imbalan dari hasil eksegesis. Demikian menjawab kekeliruan pemahaman mengenai makna upah dalam pelayanan. Agar para hamba Tuhan mendapat pemahaman baru tentang pahala dan kembali mengabdi kepada Tuhan dengan motivasi yang murni. Penulis menyimpulkan bahwa sangat penting bagi setiap hamba Tuhan untuk menyucikan motivasinya dalam melayani, sehingga tercipta pelayanan yang sejati, murni dalam melakukan tanggungjawab yang mulia, yaitu pemberitaan Injil kepada semua orang. pahala kita berasal dari Tuhan. Perlu di ingat, motivasi yang salah dalam melayani akan merusak pelayanan.","PeriodicalId":373301,"journal":{"name":"Jurnal Arrabona","volume":"20 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2023-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Arrabona","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.57058/juar.v6i1.90","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Serving God is a special calling for everyone. The response to the call is strongly influenced by the motivation of each individual. The motivation possessed by a person determines the goals to be achieved while serving. It cannot be denied that in this demanding era, every servant of God has a competitive lifestyle, namely: not wanting to be difficult, not wanting to be out of date. The motivation possessed by a person determines the goals to be achieved while serving. then the ministry of God's servant changed direction and motivation to serve. To overcome this problem, the author raises a Bible character named Paul, who is so persistent in serving God, that he says "I preach the gospel without reward" I Corinthians 9:18. The context is close to the text of verses 15-18, where Paul explains his rights to everyone at that time. In verse 12 Paul compares himself to other ministries that have the right to work, even though Paul already has a Climax of thought and calling as written in 1 Corinthians 9:18, The writer uses descriptive exegetical-qualitative method. Where the author will provide the correct interpretation of the preaching of the gospel as a reward for the results of exegesis. Thus answering the misunderstanding of the meaning of wages in service. So that God's servants get a new understanding of merit and return to serve God with pure motivation. The author concludes that it is very important for every servant of God to purify his motivation in serving, so that true, pure ministry is created in carrying out noble responsibilities, namely preaching the Gospel to everyone. our reward comes from God. Keep in mind, the wrong motivation in serving will damage the ministry.
Melayani Tuhan merupakan panggilan khusus bagi setiap orang. Respon terhadap panggilan tersebut sangat dipengaruhi oleh motivasi masing-masing individu. Motivasi yang dimiliki oleh seseorang menentukan tujuan yang akan dicapainya selama mengabdi. Tidak dapat dipungkiri bahwa di zaman yang serba menuntut ini, terdapat gaya hidup kompetitif yang dimiliki setiap hamba Tuhan, yaitu: tidak mau susah, tidak mau ketinggalan zaman. Motivasi yang dimiliki oleh seseorang menentukan tujuan yang akan dicapainya selama mengabdi. kemudian pelayanan hamba Tuhan berubah arah dan motivasi melayani. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penulis mengangkat tokoh Alkitab yang bernama Paulus, yang betapa gigihnya ia dalam melayani Tuhan, hingga ia berkata “Aku memberitakan Injil tanpa upah” I Korintus 9:18. Konteks dekat dengan teks dari ayat 15-18, dimana Paulus menjelaskan hak-haknya kepada semua orang pada saat itu. Pada ayat 12 Paulus membandingkan dirinya dengan pelayanan lain yang mempunyai hak dari pekerjaannya, walaupun demikian Paulus telah memiliki Klimaks pemikiran dan panggilannya sebagaimana yang tertulis 1 Korintus 9:18, Penulis menggunakan metode deskriptif eksegetis-kualitatif. Dimana penulis akan memberikan tafsir yang benar mengenai pemberitaan injil sebagai imbalan dari hasil eksegesis. Demikian menjawab kekeliruan pemahaman mengenai makna upah dalam pelayanan. Agar para hamba Tuhan mendapat pemahaman baru tentang pahala dan kembali mengabdi kepada Tuhan dengan motivasi yang murni. Penulis menyimpulkan bahwa sangat penting bagi setiap hamba Tuhan untuk menyucikan motivasinya dalam melayani, sehingga tercipta pelayanan yang sejati, murni dalam melakukan tanggungjawab yang mulia, yaitu pemberitaan Injil kepada semua orang. pahala kita berasal dari Tuhan. Perlu di ingat, motivasi yang salah dalam melayani akan merusak pelayanan.
服事神是每个人的特殊呼召。对号召的反应受到每个人动机的强烈影响。一个人所拥有的动机决定了他在服务中所要达到的目标。不可否认,在这个要求苛刻的时代,每一个神的仆人都有一种竞争的生活方式,即:不想困难,不想过时。一个人所拥有的动机决定了他在服务中所要达到的目标。然后神仆人的事奉改变了方向和动机。为了克服这个问题,作者提出了一个名叫保罗的圣经人物,他坚持为上帝服务,他说:“我传福音是没有报酬的”(哥林多前书9:18)。上下文接近15-18节的经文,保罗在那里向当时的每个人解释他的权利。在第12节中,保罗将自己与其他有权工作的事工进行比较,尽管保罗在哥林多前书9章18节中已经有了思想和呼召的高潮,作者使用了描述性的训诂定性方法。作者将对福音的宣讲提供正确的解释,作为对释经结果的奖励。从而回答了对服务工资含义的误解。使神的仆人对功德有一个新的认识,并带着纯粹的动机回来服事神。作者总结说,对于每一个神的仆人来说,净化他的服务动机是非常重要的,这样才能在履行高尚的责任,即向每一个人传福音的过程中创造出真正的、纯洁的事工。我们的赏赐是从神而来的。记住,错误的服事动机会破坏事工。Melayani Tuhan merupakan panggilan khusus bagi setiap orange。反应是这样的:有一个人有一个动机,一个人有一个动机。我爱你,我爱你,我爱你,我爱你,我爱你。tidaak dapat dipungkiri bahwa di zaman yang serba menuntut ini, terdapat gaya hidup kompetitif yang dimiliki setiap hamba Tuhan, yitu: tidaak mau susah, tidaak mau ketinggalan zaman。我爱你,我爱你,我爱你,我爱你,我爱你。kemudian pelayanan hamba Tuhan berubah arah dan motivasi melayani。Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penulis mengangkat tokoh Alkitab yang bernama Paulus, yang betapa gigihnya ia dalam melayani Tuhan, hinga ia berkata“Aku memberitakan Injil tanpa upah”,哥林多前书9:18。在15-18岁的时候,我的朋友们,我的朋友们,我的朋友们,我的朋友们。padayat 12 Paulus membandingkan dirinya dengan pelayanan lain yang mempunyai hak dari pekerjaannya, walaupun demikian Paulus telah memiliki Klimaks pemikiran dan panggilannya sebagaimana yang tertulis 1 Korintus 9:18, Penulis menggunakan mededecritif eksegetis-kualitatif。也门半岛委员会成员、驻伊大使杨·贝纳尔·门扎尼(yang benar mengeni)表示,巴基斯坦半岛和平与稳定理事会将于今年12月召开会议。Demikian menjawab kekeliran pemahaman mengenai makna upah dalam pelayanan。Agar para hamba Tuhan mendapat pemahaman baru tentang pahala dan kembali mengabdi kepada Tuhan dengan motivasi yang murni。Penulis menypulkkan bahwa sangat penting bagi setiap hamba Tuhan untuk menyucikan motivasinya dalam yang sejati, murni dalam melakukan tangggjawab yang mulia, yitu pemberitaan Injil kepaada semua orang。pahala kita berasal dari Tuhan。我的意思是,我的意思是,我的意思是我的意思是我的意思是我的意思。