Pub Date : 2019-09-17DOI: 10.36275/jaerasi.v1i1.137
Azizah Aziyar, Sri Yanti Lisha
Abu dasar batubara (Bottom Ash) adalah limbah B3 yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga thermal yang jumlahnya semakin banyak dan sangat berpitensi mencemari lingkungan. Abu dasar batubara (Bottom Ash) telah banyak dimanfaatkan sebagai adsorben pada penyisihan parameter pencemar dalam limbah cair karena mempunyai porositas tinggi dan luas permukaan besar. Penelitian sebelumnya menyebutka bahw bottom ash ini mempunyai kandungan utama silika, iron, alumina, magnesium dan SO3, dan bottom ash merupakan suatu media adsorbsi yang digunakan untuk mengadsorb limbah. Pada penelitian ini bottom ash dimanfaatkan sebagai adsorben penyisihan logam Fe pada limbah cair dengan studi kasus limbah cair PLTU Teluk Sirih, Sumatera Barat. Produk akhir Bottom Ash akan berbentuk serbuk dengan ukuran 60 mesh dan di aktifasi dengan basa kuat yaitu Natrium Hidroksida. Dengan proses aktifasi tersebut diharapkan dapat merusak permukaan bottom ash sehingga penyerapan terhadap logam Fe lebih besar. Proses adsorbsi dilakukan dengan cara pengadukan 700 rpm dengan variasi waktu dan konsentrasi aktifator yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kondisi optimum penurunan efektifitas terhadap penyisihan logam Fe pada sampel limbah cair. Alat yang digunakan untuk mengukur konsentrasi logam Fe adalah spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 510 nm. Limbah cair yang di uji adalah limbah cair pada kolam inlet WWTP PLTU Teluk Sirih dengan konsentrasi Fe awal adalah 3,52 Ppm. Setelah dilakukan proses adsorbsi dengan adsorben bottom ash yang telah di aktivasi NaOH 3 M dan waktu kontak 7 jam konsentrasi logam Fe pada limbah cair turun hingga 0.05 ppm dengan persentase efektifitas penyerapan adalah 98,60 %. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa adsorben bottom ash efektif digunakan sebagai adsorben pada limbah cair.
{"title":"PEMANFAATAN LIMBAH ABU DASAR BATUBARA (BOTTOM ASH) SEBAGAI ADSORBEN LOGAM FE PADA LIMBAH CAIR PLTU TELUK SIRIH, SUMATERA BARAT","authors":"Azizah Aziyar, Sri Yanti Lisha","doi":"10.36275/jaerasi.v1i1.137","DOIUrl":"https://doi.org/10.36275/jaerasi.v1i1.137","url":null,"abstract":"Abu dasar batubara (Bottom Ash) adalah limbah B3 yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga thermal yang jumlahnya semakin banyak dan sangat berpitensi mencemari lingkungan. Abu dasar batubara (Bottom Ash) telah banyak dimanfaatkan sebagai adsorben pada penyisihan parameter pencemar dalam limbah cair karena mempunyai porositas tinggi dan luas permukaan besar. Penelitian sebelumnya menyebutka bahw bottom ash ini mempunyai kandungan utama silika, iron, alumina, magnesium dan SO3, dan bottom ash merupakan suatu media adsorbsi yang digunakan untuk mengadsorb limbah. Pada penelitian ini bottom ash dimanfaatkan sebagai adsorben penyisihan logam Fe pada limbah cair dengan studi kasus limbah cair PLTU Teluk Sirih, Sumatera Barat. Produk akhir Bottom Ash akan berbentuk serbuk dengan ukuran 60 mesh dan di aktifasi dengan basa kuat yaitu Natrium Hidroksida. Dengan proses aktifasi tersebut diharapkan dapat merusak permukaan bottom ash sehingga penyerapan terhadap logam Fe lebih besar. Proses adsorbsi dilakukan dengan cara pengadukan 700 rpm dengan variasi waktu dan konsentrasi aktifator yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kondisi optimum penurunan efektifitas terhadap penyisihan logam Fe pada sampel limbah cair. Alat yang digunakan untuk mengukur konsentrasi logam Fe adalah spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 510 nm. Limbah cair yang di uji adalah limbah cair pada kolam inlet WWTP PLTU Teluk Sirih dengan konsentrasi Fe awal adalah 3,52 Ppm. Setelah dilakukan proses adsorbsi dengan adsorben bottom ash yang telah di aktivasi NaOH 3 M dan waktu kontak 7 jam konsentrasi logam Fe pada limbah cair turun hingga 0.05 ppm dengan persentase efektifitas penyerapan adalah 98,60 %. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa adsorben bottom ash efektif digunakan sebagai adsorben pada limbah cair.","PeriodicalId":437547,"journal":{"name":"JURNAL AERASI","volume":"19 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-09-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116670821","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-09-17DOI: 10.36275/jaerasi.v1i1.132
Nidia Nur Jamil, R. Ridwan
Cangkang langkitang (Faunus ater) merupakan limbah yang dapat dijadikan sebagai biosorben karena mengandung senyawa turunan kalsium karbonat (CaCO3) secara fisik mempunyai pori-pori yang memungkinkan memiliki kemampuan mengadsorpsi zat-zat lain kedalam pori-pori permukaannya yang dapat mengikat ion logam. Salah satu logam berat yang merupakan sumber pencemaran dan perlu dihilangkan dalam perairan adalah logam kromium (Cr). Logam ini digunakan dalam industri penyamakan kulit, pelapisan logam, industri cat dan industri tekstil, bersifat karsinogenik sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Pembuatan biosorben dari cangkang langkitang bertujuan untuk mengetahui apakah adsorben tersebut dapat menurunkan kadar ion logam kromium dalam limbah penyamakan kulit. Variasi pH, ukuran adsorben, dan ketebalan adsorben dilakukan untuk mengetahui kondisi optimum terhadap proses penyerapan ion logam kromium dengan cangkang langkitang menggunakan SSA. Variasi pH dilakukan pada pH 2, 3, 4, 5 dan 6 dan keadaan optimum diperoleh pada pH 2 dengan variasi ukuran adsorben 40, 70 dan 100 Mesh dan variasi ketebalan adsorben 2, 6 dan 10 cm. Hasil dari penyerapan 20 ml limbah Cr menggunakan adsorben cangkang langkitang sebesar 72,57 ppm. Setelah diadsorpsi sampel dianalisis dengan SSA, didapatkan hasil bahwa logam kromium pada sampel memiliki nilai efektifitas terbesar yaitu pada ukuran 100 mesh sebesar 99, 29 % sedangkan untuk ukuran 40 dan 70 mesh sebesar 98,23 % dan 98, 78 %.
{"title":"PEMANFAATAN BIOMASSA CANGKANG LANGKITANG (FAUNUS ATER) SEBAGAI BIOSORBEN LOGAM BERAT KROM PADA LIMBAH CAIR","authors":"Nidia Nur Jamil, R. Ridwan","doi":"10.36275/jaerasi.v1i1.132","DOIUrl":"https://doi.org/10.36275/jaerasi.v1i1.132","url":null,"abstract":"Cangkang langkitang (Faunus ater) merupakan limbah yang dapat dijadikan sebagai biosorben karena mengandung senyawa turunan kalsium karbonat (CaCO3) secara fisik mempunyai pori-pori yang memungkinkan memiliki kemampuan mengadsorpsi zat-zat lain kedalam pori-pori permukaannya yang dapat mengikat ion logam. Salah satu logam berat yang merupakan sumber pencemaran dan perlu dihilangkan dalam perairan adalah logam kromium (Cr). Logam ini digunakan dalam industri penyamakan kulit, pelapisan logam, industri cat dan industri tekstil, bersifat karsinogenik sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Pembuatan biosorben dari cangkang langkitang bertujuan untuk mengetahui apakah adsorben tersebut dapat menurunkan kadar ion logam kromium dalam limbah penyamakan kulit. Variasi pH, ukuran adsorben, dan ketebalan adsorben dilakukan untuk mengetahui kondisi optimum terhadap proses penyerapan ion logam kromium dengan cangkang langkitang menggunakan SSA. Variasi pH dilakukan pada pH 2, 3, 4, 5 dan 6 dan keadaan optimum diperoleh pada pH 2 dengan variasi ukuran adsorben 40, 70 dan 100 Mesh dan variasi ketebalan adsorben 2, 6 dan 10 cm. Hasil dari penyerapan 20 ml limbah Cr menggunakan adsorben cangkang langkitang sebesar 72,57 ppm. Setelah diadsorpsi sampel dianalisis dengan SSA, didapatkan hasil bahwa logam kromium pada sampel memiliki nilai efektifitas terbesar yaitu pada ukuran 100 mesh sebesar 99, 29 % sedangkan untuk ukuran 40 dan 70 mesh sebesar 98,23 % dan 98, 78 %.","PeriodicalId":437547,"journal":{"name":"JURNAL AERASI","volume":"100 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-09-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132487683","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-09-17DOI: 10.36275/jaerasi.v1i1.139
Faldi Lulrahman, Andi Irawan
Indonesia merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia, salah satu daerah yang menghasilkan kelapa adalah Sumatera barat. Bertambahnya produksi kelapa, maka bertambahnya limbah tempurung kelapa. Metode yang diperkirakan sangat efektif dalam menangani limbah tempurung kelapa adalah metode pirolisis yang dapat mengasilkan asap cair. Proses pirolisis limbah tempurung kelapa adalah dengan cara memberikan panas ke limbah tempurung kelapa tanpa adanya udara. Asap hasil pembakaran akan di kondensasi (perubahan fasa gas menjadi fasa cair) dengan menggunakan kondensor, kemudian hasil asap cair keluaran kondensor akan ditampung dengan menggunakan gelas ukur. Pada penelitian ini dilakukan variasi terhadap temperatur proses pirolisis, waktu/lama proses pirolisis, ukuran limbah tempurung kelapa, dan kadar air limbah tempurung kelapa. Hasil Rendemen asap cair yang didapatkan pada variasi temperatur adalah 17,6466%, 19,3226%, 21,8426% dan 26,0420%. Rendemen asap cair pada variasi waktu pirolisis adalah 14,7735%, 15,4574, 17,7999 dan 20,1498%. Rendemen asap cair untuk variasi ukuran partikel adalah 11,8923%, 150928% dan 17,1074%. Rendemen asap cair untuk variasi kadar air limbah tempurung kelapa adalah 17,2636%, 13,4098% dan 6,7132%. Hubungan temperatur pirolisis terhadap rendemen asap cair adalah berbanding lurus. Hubungan waktu pirolisis dengan rendemen asap cair adalah berbanding lurus. Hubungan ukuran limbah tempurung kelapa dengan rendemen asap cair adalah berbanding terbalik.
{"title":"STUDI PENGOLAHAN LIMBAH TEMPURUNG KELAPA DENGAN METODE PIROLISIS UNTUK MENGHASILKAN ASAP CAIR","authors":"Faldi Lulrahman, Andi Irawan","doi":"10.36275/jaerasi.v1i1.139","DOIUrl":"https://doi.org/10.36275/jaerasi.v1i1.139","url":null,"abstract":"Indonesia merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia, salah satu daerah yang menghasilkan kelapa adalah Sumatera barat. Bertambahnya produksi kelapa, maka bertambahnya limbah tempurung kelapa. Metode yang diperkirakan sangat efektif dalam menangani limbah tempurung kelapa adalah metode pirolisis yang dapat mengasilkan asap cair. Proses pirolisis limbah tempurung kelapa adalah dengan cara memberikan panas ke limbah tempurung kelapa tanpa adanya udara. Asap hasil pembakaran akan di kondensasi (perubahan fasa gas menjadi fasa cair) dengan menggunakan kondensor, kemudian hasil asap cair keluaran kondensor akan ditampung dengan menggunakan gelas ukur. Pada penelitian ini dilakukan variasi terhadap temperatur proses pirolisis, waktu/lama proses pirolisis, ukuran limbah tempurung kelapa, dan kadar air limbah tempurung kelapa. Hasil Rendemen asap cair yang didapatkan pada variasi temperatur adalah 17,6466%, 19,3226%, 21,8426% dan 26,0420%. Rendemen asap cair pada variasi waktu pirolisis adalah 14,7735%, 15,4574, 17,7999 dan 20,1498%. Rendemen asap cair untuk variasi ukuran partikel adalah 11,8923%, 150928% dan 17,1074%. Rendemen asap cair untuk variasi kadar air limbah tempurung kelapa adalah 17,2636%, 13,4098% dan 6,7132%. Hubungan temperatur pirolisis terhadap rendemen asap cair adalah berbanding lurus. Hubungan waktu pirolisis dengan rendemen asap cair adalah berbanding lurus. Hubungan ukuran limbah tempurung kelapa dengan rendemen asap cair adalah berbanding terbalik.","PeriodicalId":437547,"journal":{"name":"JURNAL AERASI","volume":"10 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-09-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115350328","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-09-17DOI: 10.36275/jaerasi.v1i1.140
Iing Surya Marlis, Yaumal Arbi
Air mempunyai makna ganda yakni pertama air sebagai faktor lingkungan dan ekologi pembangkit sistem; dan kedua air sebagai bahan baku untuk kegunaan yang berbeda-beda seperti air minum, industri, pertanian, perikanan, rekreasi, dan lain-lain. Untuk itu diperlukan sarana pengolahan air minum yang memenuhi kriteria kuantitas, kualitas dan kontinuitas. Perencanaan instalasi pengolahan air minum ini direncanakan di Kelurahan Tarantang. Pengolahan air minum ini bertujuan untuk memasok air minum yang aman yang memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan oleh undang-undang dan yang paling penting dalam merencanakan sistem pengolahan air minum adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen di Kelurahan Tarantang. Selain itu, tujuan utama ini berfokus pada bagaimana untuk mengoperasikan seluruh sistem pengolahan air dengan biaya efektif dan berkelanjutan. Analisa air baku yang dilakukan diantaranya parameter fisika, kimia dan biologi. Dari hasil analisa didapatkan kualitas air baku mendekati baku mutu pada PP No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air Baku dan Pengendalian Pencemaran Air. Kebutuhan air masyarakat periode 20 tahun adalah 4,6 L/dt dengan rencana unit pengolahan intake, sedimentasi, filtrasi (SPL), desinfeksi dan reservoar.
水作为环境和生态系统生成因素具有双重意义;水既是饮用水、工业、农业、渔业、娱乐等不同用途的原材料。这需要符合数量、质量和连续性标准的饮用水处理厂。这项供水设施的规划是计划在泰国农村地区进行的。这个饮用水处理厂的目的是提供符合法律规定的质量要求的安全饮用水,而计划饮用水处理系统的最重要的是满足客户对水槽的需求。此外,这一主要目标侧重于如何以有效和可持续的成本操作整个水处理系统。进行的原始水分析在物理、化学和生物参数之间。从分析中,在2001年第82 PP上,关于处理原始水质量和控制水污染的方法获得了接近质量的水质。公共供水需求20年是4.6 L / dt时期摄取加工单位的计划(SPL),消毒和过滤,sedimentasi reservoar。
{"title":"PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM DI KELURAHAN TARANTANG KECAMATAN LUBUK KILANGAN KOTA PADANG","authors":"Iing Surya Marlis, Yaumal Arbi","doi":"10.36275/jaerasi.v1i1.140","DOIUrl":"https://doi.org/10.36275/jaerasi.v1i1.140","url":null,"abstract":"Air mempunyai makna ganda yakni pertama air sebagai faktor lingkungan dan ekologi pembangkit sistem; dan kedua air sebagai bahan baku untuk kegunaan yang berbeda-beda seperti air minum, industri, pertanian, perikanan, rekreasi, dan lain-lain. Untuk itu diperlukan sarana pengolahan air minum yang memenuhi kriteria kuantitas, kualitas dan kontinuitas. Perencanaan instalasi pengolahan air minum ini direncanakan di Kelurahan Tarantang. Pengolahan air minum ini bertujuan untuk memasok air minum yang aman yang memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan oleh undang-undang dan yang paling penting dalam merencanakan sistem pengolahan air minum adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen di Kelurahan Tarantang. Selain itu, tujuan utama ini berfokus pada bagaimana untuk mengoperasikan seluruh sistem pengolahan air dengan biaya efektif dan berkelanjutan. Analisa air baku yang dilakukan diantaranya parameter fisika, kimia dan biologi. Dari hasil analisa didapatkan kualitas air baku mendekati baku mutu pada PP No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air Baku dan Pengendalian Pencemaran Air. Kebutuhan air masyarakat periode 20 tahun adalah 4,6 L/dt dengan rencana unit pengolahan intake, sedimentasi, filtrasi (SPL), desinfeksi dan reservoar.","PeriodicalId":437547,"journal":{"name":"JURNAL AERASI","volume":"74 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-09-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127203274","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2019-09-17DOI: 10.36275/jaerasi.v1i1.136
Besnaya Zalenzi
Permasalahan pencemaran lindi dalam air tanah dan air permukaan disebabkan oleh metode pengelolaan TPA yang belum memadai. Umumnya, migrasi lindi dari TPA berpotensi mencemari air tanah karena lindi akan merembes dalam tanah kemudian menyebar mengikuti aliran air tanah. TPA Sampah Regional Payakumbuh terletak bersebelahan dengan sawah penduduk dengan jarak 10 m, dan terdapat perumahan penduduk pada radius 300 m dari TPA yang menjadikan air sumur dangkal sebagai sumber air utama dan perlu dilakukan permodelan menggunakan model Domenico and Scwartz, dengan parameter yang akan di analisa adalah Pb dan Fe untuk mengetahui sejauh mana penyebaran Pb dan Fe pada air tanah, dan juga menggunakan aplikasi MatLab untuk mengetahui simulasi permodelan satu dan dua dimensi penyebaran kontaminan yang digunakan untuk mengetahui penyebaran kontaminan Pb dan Fe pada air tanah berdasarkan waktu tertentu umur pakai TPA. Dari hasil pengukuran lindi TPA melebihi baku mutu PERMEN LH No.5 Tahun 2014 Fe 5 mg/L, dan Pb 0,1 mg/L. Pengambilan sampel dilakukan di pipa inlet dan pipa outlet kolam lindi TPA. Hasil pengukuran parameter pada pipa inlet menunjukan konsentrasi yang tinggi yaitu Pb 0,971 mg/L dan Fe 5,122 mg/L. Hasil Simulasi pada umur pakai TPA saat ini(7tahun), Pb telah menyebar ±50 m dan Fe telah menyebar ±20 m dan pada saat umur pakai TPA mencapai 20 tahun, Pb telah menyebar ±70 m dan Fe ±25 m dari TPA mengikuti aliran air tanah. Dari hasil simulasi diketahui bahwa semakin panjang umut TPA semakin jauh kontaminan menyebar di air tanah dangkal
{"title":"STUDI PENYEBARAN KONTAMINAN Pb DAN Fe DARI LINDI PADA AIR TANAH DANGKAL (STUDI KASUS TPA SAMPAH REGIONAL PAYAKUMBUH)","authors":"Besnaya Zalenzi","doi":"10.36275/jaerasi.v1i1.136","DOIUrl":"https://doi.org/10.36275/jaerasi.v1i1.136","url":null,"abstract":"Permasalahan pencemaran lindi dalam air tanah dan air permukaan disebabkan oleh metode pengelolaan TPA yang belum memadai. Umumnya, migrasi lindi dari TPA berpotensi mencemari air tanah karena lindi akan merembes dalam tanah kemudian menyebar mengikuti aliran air tanah. TPA Sampah Regional Payakumbuh terletak bersebelahan dengan sawah penduduk dengan jarak 10 m, dan terdapat perumahan penduduk pada radius 300 m dari TPA yang menjadikan air sumur dangkal sebagai sumber air utama dan perlu dilakukan permodelan menggunakan model Domenico and Scwartz, dengan parameter yang akan di analisa adalah Pb dan Fe untuk mengetahui sejauh mana penyebaran Pb dan Fe pada air tanah, dan juga menggunakan aplikasi MatLab untuk mengetahui simulasi permodelan satu dan dua dimensi penyebaran kontaminan yang digunakan untuk mengetahui penyebaran kontaminan Pb dan Fe pada air tanah berdasarkan waktu tertentu umur pakai TPA. Dari hasil pengukuran lindi TPA melebihi baku mutu PERMEN LH No.5 Tahun 2014 Fe 5 mg/L, dan Pb 0,1 mg/L. Pengambilan sampel dilakukan di pipa inlet dan pipa outlet kolam lindi TPA. Hasil pengukuran parameter pada pipa inlet menunjukan konsentrasi yang tinggi yaitu Pb 0,971 mg/L dan Fe 5,122 mg/L. Hasil Simulasi pada umur pakai TPA saat ini(7tahun), Pb telah menyebar ±50 m dan Fe telah menyebar ±20 m dan pada saat umur pakai TPA mencapai 20 tahun, Pb telah menyebar ±70 m dan Fe ±25 m dari TPA mengikuti aliran air tanah. Dari hasil simulasi diketahui bahwa semakin panjang umut TPA semakin jauh kontaminan menyebar di air tanah dangkal","PeriodicalId":437547,"journal":{"name":"JURNAL AERASI","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-09-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130458162","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}