ABSTRAK. Masa remaja rentan terhadap masalah gizi. Kebutuhan dan kecukupan gizi yang tidak seimbang akan berpengaruh pada permasalahan gizi, yaitu gizi lebih maupun gizi kurang. Remaja perempuan dan laki-laki di Indonesia kini tengah mengalami permasalahan gizi. Sekitar 1 dari 4 remaja laki-laki mengalami masalah stunting, 1 dari 7 mengalami obesitas, dan hampir seperempatnya mengalami kekurangan darah. Hal ini menunjukkan bahwa masalah gizi pada remaja laki-laki masih menjadi perkara yang belum teratasi, sehingga diperlukan sosialisasi untuk mengatasi masalah tersebut. Sosialisasi dilakukan dengan cara menyampaikan serta menjelaskan materi terkait dengan gizi pada remaja laki-laki. Hasil dari sosialisasi yang disampaikan adalah siswa remaja laki-laki sangat antusias untuk bertanya terkait dengan materi yang disampaikan karena merasa asupan nutrisi yang mereka makan belum memenuhi angka kecukupan gizi yang seharusnya. Kesimpulan akhir dari kegiatan sosialisasi adalah kegiatan berjalan lancar dan siswa remaja laki-laki memahami gizi apa saja yang harus mereka konsumsi agar tidak mengalami masalah gizi ke depannya. Kata kunci: Sosialisasi; Gizi Kesehatan; Remaja Laki-Laki ABSTRACT. Adolescence is vulnerable to nutritional problems. Unbalanced nutritional needs and adequacy will affect nutritional problems, namely excess nutrition and undernutrition. Teenage girls and boys in Indonesia are currently experiencing nutritional problems. About 1 in 4 teenage boys has a stunting problem, 1 in 7 is obese, and almost a quarter have a lack of blood. This shows that the problem of nutrition in adolescent boys is still a problem that has not been resolved, so socialization is needed to overcome this problem. Socialization is carried out by conveying and explaining material related to nutrition to male adolescents. The result of the socialization that was delivered was that young male students were very enthusiastic to ask questions related to the material presented because they felt that the nutritional intake they were eating did not meet the proper nutritional adequacy rate. The final conclusion from the socialization activity was that the activity ran smoothly and the teenage boys understood what nutrients they should consume so they would not experience nutritional problems in the future. Keywords: Socialization; Health Nutrition; Teenage Boys
{"title":"IbM SOSIALISASI GIZI KESEHATAN REMAJA LAKI-LAKI DI SMP PGRI BANYUBIRU KABUPATEN SEMARANG","authors":"N. Kusumawati","doi":"10.33560/ijhims.v3i1.61","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v3i1.61","url":null,"abstract":"ABSTRAK. \u0000Masa remaja rentan terhadap masalah gizi. Kebutuhan dan kecukupan gizi yang tidak seimbang akan berpengaruh pada permasalahan gizi, yaitu gizi lebih maupun gizi kurang. Remaja perempuan dan laki-laki di Indonesia kini tengah mengalami permasalahan gizi. Sekitar 1 dari 4 remaja laki-laki mengalami masalah stunting, 1 dari 7 mengalami obesitas, dan hampir seperempatnya mengalami kekurangan darah. Hal ini menunjukkan bahwa masalah gizi pada remaja laki-laki masih menjadi perkara yang belum teratasi, sehingga diperlukan sosialisasi untuk mengatasi masalah tersebut. Sosialisasi dilakukan dengan cara menyampaikan serta menjelaskan materi terkait dengan gizi pada remaja laki-laki. Hasil dari sosialisasi yang disampaikan adalah siswa remaja laki-laki sangat antusias untuk bertanya terkait dengan materi yang disampaikan karena merasa asupan nutrisi yang mereka makan belum memenuhi angka kecukupan gizi yang seharusnya. Kesimpulan akhir dari kegiatan sosialisasi adalah kegiatan berjalan lancar dan siswa remaja laki-laki memahami gizi apa saja yang harus mereka konsumsi agar tidak mengalami masalah gizi ke depannya. \u0000 \u0000Kata kunci: Sosialisasi; Gizi Kesehatan; Remaja Laki-Laki \u0000 \u0000ABSTRACT. \u0000Adolescence is vulnerable to nutritional problems. Unbalanced nutritional needs and adequacy will affect nutritional problems, namely excess nutrition and undernutrition. Teenage girls and boys in Indonesia are currently experiencing nutritional problems. About 1 in 4 teenage boys has a stunting problem, 1 in 7 is obese, and almost a quarter have a lack of blood. This shows that the problem of nutrition in adolescent boys is still a problem that has not been resolved, so socialization is needed to overcome this problem. Socialization is carried out by conveying and explaining material related to nutrition to male adolescents. The result of the socialization that was delivered was that young male students were very enthusiastic to ask questions related to the material presented because they felt that the nutritional intake they were eating did not meet the proper nutritional adequacy rate. The final conclusion from the socialization activity was that the activity ran smoothly and the teenage boys understood what nutrients they should consume so they would not experience nutritional problems in the future. \u0000Keywords: Socialization; Health Nutrition; Teenage Boys","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"14 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-05-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129699325","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Stunting merupakan kondisi seorang anak yang terlalu pendek atau terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan perkembangan usianya. Anak dengan stunting memiliki resiko tinggi untuk terinfeksi penyakit dan perkembangan kecerdasan yang tidak optimal. Survey telah dilakukan di 12 posyandu yang ada di wilayah kerja Kelurahan Pandean Lamper. Diketahui bahwa hasil pengukuran tinggi badan tidak menjadi indikator pengukuran status gizi anak di posyandu. Sedangkan menurut teori, status gizi dapat diukur tidak hanya berdasarkan berat badan anak tetapi juga berdasarkan tinggi badan anak. Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, maka dibuatlah aplikasi Rekam Kesehatan Personal (RKP) untuk mempermudah pencatatan dan diagnosa kasus stunting. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan kader posyandu dan ibu yang memiliki anak balita untuk mengukur status gizi anaknya. Kegiatan ini telah terlaksana dengan baik dan lancar. Peserta kegiatan menyambut sosialisasi stunting dengan baik. Peserta ikut aktif bertanya, langsung mengunduh aplikasi RKP dari ponsel dan mencoba aplikasi saat kegiatan sedang berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta kegiatan memahami tentang stunting, bahaya stunting serta deteksi dini stunting. Peserta kegiatan paham cara penggunaan dan cara membaca hasil aplikasi RKP.
{"title":"Sosialisasi Dan Implementasi Penggunan RKP (Rekam Kesehatan Personal) Untuk Deteksi Dini Cegah Stunting","authors":"Syifa Sofia Wibowo","doi":"10.33560/ijhims.v3i1.60","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v3i1.60","url":null,"abstract":"Stunting merupakan kondisi seorang anak yang terlalu pendek atau terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan perkembangan usianya. Anak dengan stunting memiliki resiko tinggi untuk terinfeksi penyakit dan perkembangan kecerdasan yang tidak optimal. Survey telah dilakukan di 12 posyandu yang ada di wilayah kerja Kelurahan Pandean Lamper. Diketahui bahwa hasil pengukuran tinggi badan tidak menjadi indikator pengukuran status gizi anak di posyandu. Sedangkan menurut teori, status gizi dapat diukur tidak hanya berdasarkan berat badan anak tetapi juga berdasarkan tinggi badan anak. Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, maka dibuatlah aplikasi Rekam Kesehatan Personal (RKP) untuk mempermudah pencatatan dan diagnosa kasus stunting. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan kader posyandu dan ibu yang memiliki anak balita untuk mengukur status gizi anaknya. Kegiatan ini telah terlaksana dengan baik dan lancar. Peserta kegiatan menyambut sosialisasi stunting dengan baik. Peserta ikut aktif bertanya, langsung mengunduh aplikasi RKP dari ponsel dan mencoba aplikasi saat kegiatan sedang berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta kegiatan memahami tentang stunting, bahaya stunting serta deteksi dini stunting. Peserta kegiatan paham cara penggunaan dan cara membaca hasil aplikasi RKP.","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"10 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-05-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129959079","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Upaya penanggulangan COVID-19 harus terus dilakukan secara masif dengan beberapa strategi mengingat pandemi COVID-19 yang berkepanjangan telah memberikan dampak besar bagi perekonomian dan kehidupan sosial. Tingkat kerentanan tenaga kesehatan dan masyarakat yang meningkat diperlukan intervensi tidak hanya dari sisi penerapan protokol kesehatan namun juga diperlukan intervensi lain yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit melalui upaya Telemedicineasi dosis ketiga dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi kesehatan yaitu telemedicine. Implementasi telemedicine menjadi salah satu terobosan teknologi informasi dan komunikasi di bidang kesehatan dan medis untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Luaran yang diharapkan untuk tercapai adalah kader kesehatan mampu mengetahui dan menggali potensi diri dalam berkomunikasi interpersonal yang berguna saat menjadi fasilitator/mediator dalam memberikan edukasi tentang informasi dan manfaat telemedicine/telehealth di era Pandemi COVID ini kepada masyarakat menggunakan media audio visual berstandart nasional. Pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan terkait telemedicine/telehealth dan pelayanan kesehatan khususnya telekonsultasi medis mengalami peningkatan sebesar 55,49 setelah pelatihan.
{"title":"Telemedicine Sebagai Media Konsultasi Dan Komunikasi Kesehatan Jarak Jauh Pada Kader Kesehatan Posyandu Kelurahan Sumampir","authors":"W. Wulan","doi":"10.33560/ijhims.v3i1.59","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v3i1.59","url":null,"abstract":"Upaya penanggulangan COVID-19 harus terus dilakukan secara masif dengan beberapa strategi mengingat pandemi COVID-19 yang berkepanjangan telah memberikan dampak besar bagi perekonomian dan kehidupan sosial. Tingkat kerentanan tenaga kesehatan dan masyarakat yang meningkat diperlukan intervensi tidak hanya dari sisi penerapan protokol kesehatan namun juga diperlukan intervensi lain yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit melalui upaya Telemedicineasi dosis ketiga dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi kesehatan yaitu telemedicine. Implementasi telemedicine menjadi salah satu terobosan teknologi informasi dan komunikasi di bidang kesehatan dan medis untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Luaran yang diharapkan untuk tercapai adalah kader kesehatan mampu mengetahui dan menggali potensi diri dalam berkomunikasi interpersonal yang berguna saat menjadi fasilitator/mediator dalam memberikan edukasi tentang informasi dan manfaat telemedicine/telehealth di era Pandemi COVID ini kepada masyarakat menggunakan media audio visual berstandart nasional. Pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan terkait telemedicine/telehealth dan pelayanan kesehatan khususnya telekonsultasi medis mengalami peningkatan sebesar 55,49 setelah pelatihan.","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"107 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-05-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116546815","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Enny Rachmani, Fitria Dewi, H. Haikal, Oki Setiono
Teknologi saat ini dapat membantu kita untuk mendapatkan informasi digital salah satunya terkait dengan literasi kesehatan. Literasi kesehatan sangat berdampak besar pada hal kesehatan, hal ini dibuktikan dari tingkat layanan kesehatan yang sekarang ini semakin berkembang pesat. Si-Cerdik menjadi salah satu platform literasi kesehatan yang dapat digunakan untuk mengukur literasi informasi kesehatan digital bagi tenaga kesehatan dan masyarakat umum. Pengabdian dilakukan pada salah satu pusat layanan kesehatan masyarakat pada kader. DHLC (Digital Health Literacy Competencies for Citizen) merupakan salah satu cara dalam mengukur literasi kesehatan yang telah teruji validiitas dan reliabiltasnya dengan menggunakan kuesioner. Hasil pengukuran berupa pre-test dan post-test diolah secara statistik menggunakan uji beda Wilcoxon Test. Hasil akhir dari pengukuran post-test menunjukkan secara statistik berbeda secara signifikan dengan pre-test.
{"title":"Pengukuran Literasi Kesehatan Digital Kader Kesehatan Desa Penadaran Menggunakan SI-Cerdik","authors":"Enny Rachmani, Fitria Dewi, H. Haikal, Oki Setiono","doi":"10.33560/ijhims.v3i1.57","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v3i1.57","url":null,"abstract":"Teknologi saat ini dapat membantu kita untuk mendapatkan informasi digital salah satunya terkait dengan literasi kesehatan. Literasi kesehatan sangat berdampak besar pada hal kesehatan, hal ini dibuktikan dari tingkat layanan kesehatan yang sekarang ini semakin berkembang pesat. Si-Cerdik menjadi salah satu platform literasi kesehatan yang dapat digunakan untuk mengukur literasi informasi kesehatan digital bagi tenaga kesehatan dan masyarakat umum. Pengabdian dilakukan pada salah satu pusat layanan kesehatan masyarakat pada kader. DHLC (Digital Health Literacy Competencies for Citizen) merupakan salah satu cara dalam mengukur literasi kesehatan yang telah teruji validiitas dan reliabiltasnya dengan menggunakan kuesioner. Hasil pengukuran berupa pre-test dan post-test diolah secara statistik menggunakan uji beda Wilcoxon Test. Hasil akhir dari pengukuran post-test menunjukkan secara statistik berbeda secara signifikan dengan pre-test.","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"54 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-05-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116902661","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
ABSTRAK. Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian faktor risiko secara mandiri dan berkesinambungan. Pengembangan Posbindu PTM dapat dipadukan dengan upaya yang telah terselenggara di masyarakat. Melalui Posbindu PTM, pencegahan faktor risiko PTM dapat ditingkatkan sehingga kejadian PTM di masyarakat dapat ditekan. Kelurahan Sukorejo memiliki Puskesmas Sekaran sebagai Pembina kegiatan kesehatan di masyarakat. RW 12 Kelurahan Sukorejo baru saja membentuk Posbindu pada Bulan Maret 2021. Kader yang terkumpul sebanyak 14 orang dari tujuh RT. Posbindu ini masih membutuhkan banyak dukungan sumber daya dalam menggerakkan organisasi dan program kesehatan. Kader yang terbentuk belum dilatih dan belum bersertifikat. Sarana posbindu kit juga belum tersedia dan masih meminjam dari sarana posyandu remaja. Pembukuan data kegiatan juga belum terorganisir dengan baik. Pengabdian kepada masyarakat ini berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat khususnya pada program kesehatan usia produktif, sehingga penyakit-penyakit degeneratif dapat dicegah, pola hidup keluarga lebih sehat, dan derajat kesehatan masyarakat lebih meningkat. Luaran PkM ini adalah terbentuknya Pencatatan dan Pelaporan Posbindu Sekar Wangi RW 12 Kelurahan Sukorejo Semarang dengan sistem pencatatan yang memadai. Kata kunci : Posbindu, Keluarga Sehat, Pencatatan dan Pelaporan ABSTRACT. Posbindu Non-Communicable Diseases (PTM) is a form of community participation in efforts to control risk factors independently and continuously. PTM Posbindu development can be combined with efforts that have been held in the community. Through Posbindu PTM, prevention of PTM risk factors can be increased so that the incidence of PTM in the community can be reduced. Kelurahan Sukorejo has a Sekaran Health Center as the supervisor of health activities in the community. RW 12 Sukorejo Village has just formed Posbindu in March 2021. The cadres collected were 14 people from seven RTs. This Posbindu still needs a lot of resource support in driving health organizations and programs. The formed cadres have not been trained and have not been certified. Posbindu kit facilities are also not yet available and they are still borrowing from youth posyandu facilities. Bookkeeping of activity data is also not well organized. This community service contributes to community empowerment, especially in the productive age health program, so that degenerative diseases can be prevented, family life patterns are healthier, and the community's health status is improved. The output of this PkM is the establishment of Recording and Reporting for Posbindu Sekar Wangi RW 12, Kelurahan Sukorejo Semarang with an adequate recording system. Keywords: Posbindu, Healthy Families, Recording and reporting
{"title":"Pendampingan Pencatatan Dan Pelaporan Posbindu Sekar Wangi Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang","authors":"Asih Prasetyowati, Endah Widaningtyas, Maulina Latifah","doi":"10.33560/ijhims.v3i1.51","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v3i1.51","url":null,"abstract":"ABSTRAK. Posbindu Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian faktor risiko secara mandiri dan berkesinambungan. Pengembangan Posbindu PTM dapat dipadukan dengan upaya yang telah terselenggara di masyarakat. Melalui Posbindu PTM, pencegahan faktor risiko PTM dapat ditingkatkan sehingga kejadian PTM di masyarakat dapat ditekan. Kelurahan Sukorejo memiliki Puskesmas Sekaran sebagai Pembina kegiatan kesehatan di masyarakat. RW 12 Kelurahan Sukorejo baru saja membentuk Posbindu pada Bulan Maret 2021. Kader yang terkumpul sebanyak 14 orang dari tujuh RT. Posbindu ini masih membutuhkan banyak dukungan sumber daya dalam menggerakkan organisasi dan program kesehatan. Kader yang terbentuk belum dilatih dan belum bersertifikat. Sarana posbindu kit juga belum tersedia dan masih meminjam dari sarana posyandu remaja. Pembukuan data kegiatan juga belum terorganisir dengan baik. Pengabdian kepada masyarakat ini berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat khususnya pada program kesehatan usia produktif, sehingga penyakit-penyakit degeneratif dapat dicegah, pola hidup keluarga lebih sehat, dan derajat kesehatan masyarakat lebih meningkat. Luaran PkM ini adalah terbentuknya Pencatatan dan Pelaporan Posbindu Sekar Wangi RW 12 Kelurahan Sukorejo Semarang dengan sistem pencatatan yang memadai.\u0000 \u0000Kata kunci : Posbindu, Keluarga Sehat, Pencatatan dan Pelaporan\u0000 \u0000ABSTRACT. Posbindu Non-Communicable Diseases (PTM) is a form of community participation in efforts to control risk factors independently and continuously. PTM Posbindu development can be combined with efforts that have been held in the community. Through Posbindu PTM, prevention of PTM risk factors can be increased so that the incidence of PTM in the community can be reduced. Kelurahan Sukorejo has a Sekaran Health Center as the supervisor of health activities in the community. RW 12 Sukorejo Village has just formed Posbindu in March 2021. The cadres collected were 14 people from seven RTs. This Posbindu still needs a lot of resource support in driving health organizations and programs. The formed cadres have not been trained and have not been certified. Posbindu kit facilities are also not yet available and they are still borrowing from youth posyandu facilities. Bookkeeping of activity data is also not well organized. This community service contributes to community empowerment, especially in the productive age health program, so that degenerative diseases can be prevented, family life patterns are healthier, and the community's health status is improved. The output of this PkM is the establishment of Recording and Reporting for Posbindu Sekar Wangi RW 12, Kelurahan Sukorejo Semarang with an adequate recording system.\u0000Keywords: Posbindu, Healthy Families, Recording and reporting","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-05-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125892398","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Isu keselamatan pasien tetap menjadi fokus perhatian pada kualitas pelayanan di rumah sakit, setelah dilaporkan adanya insiden yang mengakibatkan peningkatan biaya pengobatan dan kerugian bagi pasien yang sebenarnya dapat dicegah. Keberhasilan pelaporan insiden sangat tergantung pada peran semua staf. Upaya perlu ditingkatkan untuk membiasakan staf dengan pelaporan insiden. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi terkait peningkatan pengetahuan petugas tentang kondisi yang dilaporkan dalam laporan insiden keselamatan pasien. Metode pelaksanaan kegiatan berupa pre-test, penyampaian materi sosialisasi, diskusi, dan post-test yang dikemas dalam kegiatan seminar internal satu hari. Seminar ini diikuti oleh 85 staf (dari 97 undangan) perwakilan staf RSUD Nyi Ageng Serang Kulon Progo. Peserta seminar terdiri dari 5 tenaga medis, 37 tenaga keperawatan, 1 tenaga kebidanan, 2 apoteker, 3 tenaga kesehatan masyarakat, 4 tenaga kesehatan lingkungan, 2 ahli gizi, 4 tenaga medis, 5 tenaga biomedis, dan 22 tenaga non medis. Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini berkaitan dengan pelapor, kondisi yang dilaporkan, dan alur pelaporan insiden di rumah sakit. Hasil seminar ini dapat meningkatkan pengetahuan petugas sebesar 3,2%. Kesimpulannya, diperlukan kegiatan sosialisasi untuk penyegaran materi yang efektif disela-sela kegiatan rutin yang harus dilakukan oleh staf di rumah sakit.
{"title":"Upaya Meningkatkan Pengetahuan Staf Tentang Kondisi Yang Dilaporkan Pada Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Melalui Kegiatan Sosialisasi","authors":"Savitri Citra Budi, Marko Ferdian Salim, Dian Herawati, Nia Fararid Askar","doi":"10.33560/ijhims.v3i1.52","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v3i1.52","url":null,"abstract":"Isu keselamatan pasien tetap menjadi fokus perhatian pada kualitas pelayanan di rumah sakit, setelah dilaporkan adanya insiden yang mengakibatkan peningkatan biaya pengobatan dan kerugian bagi pasien yang sebenarnya dapat dicegah. Keberhasilan pelaporan insiden sangat tergantung pada peran semua staf. Upaya perlu ditingkatkan untuk membiasakan staf dengan pelaporan insiden. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi terkait peningkatan pengetahuan petugas tentang kondisi yang dilaporkan dalam laporan insiden keselamatan pasien. Metode pelaksanaan kegiatan berupa pre-test, penyampaian materi sosialisasi, diskusi, dan post-test yang dikemas dalam kegiatan seminar internal satu hari. Seminar ini diikuti oleh 85 staf (dari 97 undangan) perwakilan staf RSUD Nyi Ageng Serang Kulon Progo. Peserta seminar terdiri dari 5 tenaga medis, 37 tenaga keperawatan, 1 tenaga kebidanan, 2 apoteker, 3 tenaga kesehatan masyarakat, 4 tenaga kesehatan lingkungan, 2 ahli gizi, 4 tenaga medis, 5 tenaga biomedis, dan 22 tenaga non medis. Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini berkaitan dengan pelapor, kondisi yang dilaporkan, dan alur pelaporan insiden di rumah sakit. Hasil seminar ini dapat meningkatkan pengetahuan petugas sebesar 3,2%. Kesimpulannya, diperlukan kegiatan sosialisasi untuk penyegaran materi yang efektif disela-sela kegiatan rutin yang harus dilakukan oleh staf di rumah sakit.","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"72 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130895801","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Citra Puskesmas sampai saat ini masih dianggap kurang baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah Kota Semarang membuat program inovasi pemanfaatan teknologi yang diberi nama Layanan Puskesmas 7G (Gesit, Gak Antri, Gak Ribet, Gratis, Go Cashless, Gak Lemot, Gemati). Program ini telah mulai diluncurkan sejak September 2019 namun masih banyak masyarakat yang belum mengetahui layanan Puskesmas 7G. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pendampingan pemanfaatan layanan Puskesmas 7G ditujukan kepada 30 kader kesehatan di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Hasil pre dan post test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan pendampingan. Setelah dilakukan kegiatan pendampingan, kader dibekali dengan berbagai media promosi yang akan disebarluaskan melalui media WhatsApp grup RT. Diharapkan, setelah masyarakat mengetahui berbagai layanan inovasi ini, mereka mau memanfaatkan layanan-layanan tersebut dan merasakan manfaatnya. Citra positif Puskesmas diharapkan dapat meningkat.
{"title":"Pendampingan Pemanfaatan Inovasi Teknologi Layanan Puskesmas 7G (Gesit, Gak Antri, Gak Ribet, Gratis, Go Cashless, Gak Lemot, Gemati)","authors":"Nina Dwi Astuti, Irmawati, Muh. Rifqy Aufa Daffa, Noor Taufik Hidayat","doi":"10.33560/ijhims.v3i1.55","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v3i1.55","url":null,"abstract":"Citra Puskesmas sampai saat ini masih dianggap kurang baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah Kota Semarang membuat program inovasi pemanfaatan teknologi yang diberi nama Layanan Puskesmas 7G (Gesit, Gak Antri, Gak Ribet, Gratis, Go Cashless, Gak Lemot, Gemati). Program ini telah mulai diluncurkan sejak September 2019 namun masih banyak masyarakat yang belum mengetahui layanan Puskesmas 7G. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pendampingan pemanfaatan layanan Puskesmas 7G ditujukan kepada 30 kader kesehatan di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Hasil pre dan post test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan pendampingan. Setelah dilakukan kegiatan pendampingan, kader dibekali dengan berbagai media promosi yang akan disebarluaskan melalui media WhatsApp grup RT. Diharapkan, setelah masyarakat mengetahui berbagai layanan inovasi ini, mereka mau memanfaatkan layanan-layanan tersebut dan merasakan manfaatnya. Citra positif Puskesmas diharapkan dapat meningkat.","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"27 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127675263","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Ari Sukawan, Feryfadly, Nurmalawati, T. Gunawan, Meta Utamii Nuryani
One of the activities carried out at the hospital in the medical record section is the processing system in the medical record storage and control section. Management of medical record storage is very important to do in a health care institution because it can facilitate and speed up the rediscovery of medical records stored in storage shelves. Lost medical records, misplaced, misfiles that are difficult to find in a short time become problems that often occur and affect the quality of service. Based on the results of initial observations made with medical records officers at Permata Bunda Ciamis Hospital, it was found that there were still missfiles in the medical record. This activity aims to create a culture of using tracer outguide as a medical record tracking card out of the file storage rack and increasing the knowledge of storage officers. The method used in this socialization is to provide knowledge to the staff in the storage section directly through demonstrations and assistance in the use of tracers in the medical record storage section ending with an evaluation of activities. The results obtained from this activity increase the knowledge of storage officers using a tracer outguide to minimize the occurrence of medical record loss (misfile). Keywords: Medical Record, Tracer, Misfile
医院在病案科开展的活动之一是病案存储与控制科的处理系统。在医疗机构中,病历存储管理是非常重要的,因为它可以方便和加快对存储在存储架上的病历的重新发现。病历丢失、放错地方、错档等短时间内难以查找的问题经常发生,影响服务质量。根据对Permata Bunda Ciamis医院病历干事的初步观察结果,发现病历中仍有错误档案。该活动旨在营造一种将病历追踪卡从档案存储架中取出的文化,并增加存储人员的知识。这种社会化使用的方法是,通过示范和协助使用病历存储科的示踪剂,直接向存储科的工作人员提供知识,最后对活动进行评估。从这项活动中获得的结果增加了使用示踪指南的存储人员的知识,以尽量减少医疗记录丢失(错误归档)的发生。关键词:病案,示踪,错档
{"title":"SOSIALISASI PENGGUNAAN TRACER OUTGUIDE REKAM MEDIS RUMAH SAKIT UMUM PERMATA BUNDA CIAMIS","authors":"Ari Sukawan, Feryfadly, Nurmalawati, T. Gunawan, Meta Utamii Nuryani","doi":"10.33560/ijhims.v2i2.44","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v2i2.44","url":null,"abstract":"One of the activities carried out at the hospital in the medical record section is the processing system in the medical record storage and control section. Management of medical record storage is very important to do in a health care institution because it can facilitate and speed up the rediscovery of medical records stored in storage shelves. Lost medical records, misplaced, misfiles that are difficult to find in a short time become problems that often occur and affect the quality of service. Based on the results of initial observations made with medical records officers at Permata Bunda Ciamis Hospital, it was found that there were still missfiles in the medical record. This activity aims to create a culture of using tracer outguide as a medical record tracking card out of the file storage rack and increasing the knowledge of storage officers. The method used in this socialization is to provide knowledge to the staff in the storage section directly through demonstrations and assistance in the use of tracers in the medical record storage section ending with an evaluation of activities. The results obtained from this activity increase the knowledge of storage officers using a tracer outguide to minimize the occurrence of medical record loss (misfile). \u0000 \u0000Keywords: Medical Record, Tracer, Misfile","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128872601","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Esraida Simanjuntak, Mei Sryendang Sitorus, A. Putri, Syafaruddin Harahap
Map is a thick paper cover used to store medical record sheets, which serves to unite all patient sheets so that they become a unified whole history, protect the medical record files in it so they are not easily damaged, torn and folded. as well as facilitate storage, search and transfer. medical record file. The purpose of this community service is to redesign the medical record folder in terms of anatomy, physicality and content, as well as the boundaries of form between forms of family members (father, mother and child) at the Medan Johor Health Center. The community service methods used are public education, consultation, and the diffusion of science and technology. This service activity was carried out for 4 months. The result of this community service activity is a product in the form of a medical record folder (folder) at the Medan Johor Health Center.
{"title":"Redesain Map Rekam Medis Di Puskesmas Medan Johor","authors":"Esraida Simanjuntak, Mei Sryendang Sitorus, A. Putri, Syafaruddin Harahap","doi":"10.33560/ijhims.v2i2.42","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v2i2.42","url":null,"abstract":"Map is a thick paper cover used to store medical record sheets, which serves to unite all patient sheets so that they become a unified whole history, protect the medical record files in it so they are not easily damaged, torn and folded. as well as facilitate storage, search and transfer. medical record file. The purpose of this community service is to redesign the medical record folder in terms of anatomy, physicality and content, as well as the boundaries of form between forms of family members (father, mother and child) at the Medan Johor Health Center. The community service methods used are public education, consultation, and the diffusion of science and technology. This service activity was carried out for 4 months. The result of this community service activity is a product in the form of a medical record folder (folder) at the Medan Johor Health Center.","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"24 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115554519","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Hendra Rohman, W. Wahyuningsih, Alwhan Nurrochman, Rangga Pramudya Saputra
Puskesmas Gedongtengen belum pernah melakukan penyusutan berkas rekam medis, akibatnya ruang penyimpanan terjadi penumpukan berkas, menjadi sempit dan pencarian menjadi sulit dan lama. Ketersediaan berkas membantu kualitas mutu pelayanan rekam medis. Kegiatan pengabdian dilakukan melalui konsultasi, pendampingan hingga implementasi pengelolaan berkas rekam medis aktif, inaktif, sistem penyimpanan dan rencana pemusnahan. Puskesmas memiliki sistem penyimpanan rekam medis aktif dan inaktif, tetapi belum mempunyai jadwal retensi. Jumlah entry data rekam medis inaktif yang dilakukan pada bulan Maret 2022 yaitu 7.301 berkas dengan rata-rata kegiatan retensi 487 berkas rekam medis inaktif setiap harinya. Pada bulan April 2022 yaitu 8.574 berkas dengan rata-rata kegiatan retensi 715 berkas rekam medis inaktif setiap harinya. Pada berkas rekam medis yang telah dilakukan entry data masih ditemukan berkas rekam medis aktif karena beberapa petugas memilah berkas untuk dipindahkan ke penyimpanan inaktif belum memiliki kualifikasi sebagai seorang perekam medis. Entry data menggunakan media google drive sebagai alat bantu yang dilakukan pada kegiatan ini sangat efektif dan efisien karena setiap orang dapat mengakses langsung secara bersamaan, data yang dikumpulkan dapat terintegrasi, realtime dan dapat dipantau lebih mudah. Rencana pemusnahan dilakukan pada berkas kunjungan terakhir tahun 2016 sesuai dengan Perwal, untuk tahun 2017 hingga 2019 masih disimpan untuk periode pemusnahan berikutnya.
{"title":"PENDAMPINGAN PELAKSANAAN RETENSI REKAM MEDIS DI PUSKESMAS GEDONGTENGEN YOGYAKARTA","authors":"Hendra Rohman, W. Wahyuningsih, Alwhan Nurrochman, Rangga Pramudya Saputra","doi":"10.33560/ijhims.v2i2.43","DOIUrl":"https://doi.org/10.33560/ijhims.v2i2.43","url":null,"abstract":"Puskesmas Gedongtengen belum pernah melakukan penyusutan berkas rekam medis, akibatnya ruang penyimpanan terjadi penumpukan berkas, menjadi sempit dan pencarian menjadi sulit dan lama. Ketersediaan berkas membantu kualitas mutu pelayanan rekam medis. Kegiatan pengabdian dilakukan melalui konsultasi, pendampingan hingga implementasi pengelolaan berkas rekam medis aktif, inaktif, sistem penyimpanan dan rencana pemusnahan. Puskesmas memiliki sistem penyimpanan rekam medis aktif dan inaktif, tetapi belum mempunyai jadwal retensi. Jumlah entry data rekam medis inaktif yang dilakukan pada bulan Maret 2022 yaitu 7.301 berkas dengan rata-rata kegiatan retensi 487 berkas rekam medis inaktif setiap harinya. Pada bulan April 2022 yaitu 8.574 berkas dengan rata-rata kegiatan retensi 715 berkas rekam medis inaktif setiap harinya. Pada berkas rekam medis yang telah dilakukan entry data masih ditemukan berkas rekam medis aktif karena beberapa petugas memilah berkas untuk dipindahkan ke penyimpanan inaktif belum memiliki kualifikasi sebagai seorang perekam medis. Entry data menggunakan media google drive sebagai alat bantu yang dilakukan pada kegiatan ini sangat efektif dan efisien karena setiap orang dapat mengakses langsung secara bersamaan, data yang dikumpulkan dapat terintegrasi, realtime dan dapat dipantau lebih mudah. Rencana pemusnahan dilakukan pada berkas kunjungan terakhir tahun 2016 sesuai dengan Perwal, untuk tahun 2017 hingga 2019 masih disimpan untuk periode pemusnahan berikutnya.","PeriodicalId":260871,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Health Information Management Services","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132353073","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}