Pub Date : 2022-08-02DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.42958
S. M. Sembor, Nuryani Tinumbia, J. Kalele, Juliance H. W. Ponto, R. Hadju
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh penambahan ubi jalar kuning terhadap kualitas burger daging itik. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging itik dan ubi jalar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan, 4 ulangan untuk kualitas fisik sementara untuk pengujian organoleptik terdiri dari 5 perlakuan dan 35 ulangan (panelis). Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah: P0 ubi jalar kuning 0%, P1 ubi jalar kuning 5%, P2 ubi jalar kuning 10%, P3 ubi jalar kuning 15%, P4 ubi jalar kuning 20%. Variabel yang diukur yaitu daya mengikat air, susuk masak, pH dan uji organoleptik (warna, aroma, tekstur dan citarasa). Data yang diperoleh dari semua variabel dianalisis menggunakan analisis varians. Apabila terdapat perbedaan rataan perlakuan dilanjutkan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan penambahan ubi jalar kuning P0, P1, P2, P3, dan P4 memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap daya ikat air, susuk masak, aroma, cita rasa, serta berbeda nyata (P<0,05) terhadap warna, tekstur dan berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap pH burger daging itik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan ubi jalar kuning pada pengolahan burger daging itik kulitas fisik sampai 20% menunjukkan kualitas fisik yang baik dan secara organoleptik dapat diterima oleh panelis sampai 10%.Kata Kunci: Burger, ubi jalar (Ipomoea batatas L), daging itik
{"title":"Kualitas burger daging itik dengan penambahan ubi jalar (Ipomoea batatas L)","authors":"S. M. Sembor, Nuryani Tinumbia, J. Kalele, Juliance H. W. Ponto, R. Hadju","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.42958","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.42958","url":null,"abstract":"Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh penambahan ubi jalar kuning terhadap kualitas burger daging itik. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging itik dan ubi jalar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan, 4 ulangan untuk kualitas fisik sementara untuk pengujian organoleptik terdiri dari 5 perlakuan dan 35 ulangan (panelis). Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah: P0 ubi jalar kuning 0%, P1 ubi jalar kuning 5%, P2 ubi jalar kuning 10%, P3 ubi jalar kuning 15%, P4 ubi jalar kuning 20%. Variabel yang diukur yaitu daya mengikat air, susuk masak, pH dan uji organoleptik (warna, aroma, tekstur dan citarasa). Data yang diperoleh dari semua variabel dianalisis menggunakan analisis varians. Apabila terdapat perbedaan rataan perlakuan dilanjutkan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan penambahan ubi jalar kuning P0, P1, P2, P3, dan P4 memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap daya ikat air, susuk masak, aroma, cita rasa, serta berbeda nyata (P<0,05) terhadap warna, tekstur dan berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap pH burger daging itik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan ubi jalar kuning pada pengolahan burger daging itik kulitas fisik sampai 20% menunjukkan kualitas fisik yang baik dan secara organoleptik dapat diterima oleh panelis sampai 10%.Kata Kunci: Burger, ubi jalar (Ipomoea batatas L), daging itik","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"16 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"77164719","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-08-02DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.42957
A. Wenda, M. Telleng, W. Kaunang
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan legum Indigofera zollingeriana dan rumput Pennisetum purpureum cv Mott dalam sistem tumpangsari, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan kombinasi jarak tanam, yaitu, K1: Iz 1,00 m x 0,50 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m, K2: Iz 1,00 m x 0,50 m dan Pp 1,00 m x 0,750 m, K3: Iz 1,00 m x 1,00 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m, K4: Iz 1,00 m x 1,00 m dan Pp 1,00 m x 0,75 m, K5: Iz 1,00 m x 1,50 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m, dan K6: Iz 1,00 m x 1,50 m dan Pp 1,00 m x 0,75 m. Variabel yang diukur yaitu tinggi, diameter dan jumlah cabang Indigofera zollingeriana dan tinggi, diameter dan jumlah anakan Pennisetum purpureum cv Mott. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi jarak tanam memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan hijauan Indigofera zollingeriana dan Pennisetum purpureum. Uji BNJ menunjukkan bahwa kombinasi K6 menghasilkan tinggi, diameter dan jumlah cabang Indigofera zollingeriana dan tinggi, diameter dan jumlah anakan pennisetum purpureum cv Mott yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dari kombinasi K1, K2, K3, K4, namun berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan kombinasi K5. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi K5 yaitu jarak tanam Iz 1,00 m x 1,50 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m merupakan jarak tanam yang optimal untuk mendapatkan pertumbuhan tertinggi dari Indigofera zollingeriana dan Pennisetum purpureum cv Mott.Kata Kunci: Jarak tanam, pertumbuhan, Indigofera, Pennisetum, tumpangsari
本研究旨在分析种植距离对拟寄生物zollingeriana和Pennisetum purpureum cv Mott系统中的生长的影响,使用完整的随机设计(RAL),使用6种治疗方法和4种申命记。待遇1种,即K1距离:伊兹组合1 m x花和Pp m x花,K2:伊兹1 m×花和Pp 1 m×0.750,K3:伊兹1 m x 1 1和Pp m x花,f4:伊兹1 m×1和Pp 1 m×0.75 m, K5:伊兹1×1.5 m和Pp 1×花,f6:伊兹1 m×1.5 m和Pp 1×0.75 m。测量的变量包括身高、直径和变化率、高度、直径和腹股沟色长短。多样性分析结果表明,种植距离组合对K5的影响非常明显(p0.05)。我们可以得出结论,K5的种植距离是100m x 1.50米,Pp 100m x 0.50米,是从inwanfera zollingeriana和Pennisetum purpureum cv Mott的最佳种植距离。关键词:种植距离、生长、不提、山葵、山盖、山盖
{"title":"Pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan legum Indigofera zollingeriana dengan rumput Pennisetum purpureum cv Mott dalam sistem tumpangsari","authors":"A. Wenda, M. Telleng, W. Kaunang","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.42957","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.42957","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan legum Indigofera zollingeriana dan rumput Pennisetum purpureum cv Mott dalam sistem tumpangsari, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan kombinasi jarak tanam, yaitu, K1: Iz 1,00 m x 0,50 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m, K2: Iz 1,00 m x 0,50 m dan Pp 1,00 m x 0,750 m, K3: Iz 1,00 m x 1,00 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m, K4: Iz 1,00 m x 1,00 m dan Pp 1,00 m x 0,75 m, K5: Iz 1,00 m x 1,50 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m, dan K6: Iz 1,00 m x 1,50 m dan Pp 1,00 m x 0,75 m. Variabel yang diukur yaitu tinggi, diameter dan jumlah cabang Indigofera zollingeriana dan tinggi, diameter dan jumlah anakan Pennisetum purpureum cv Mott. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi jarak tanam memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan hijauan Indigofera zollingeriana dan Pennisetum purpureum. Uji BNJ menunjukkan bahwa kombinasi K6 menghasilkan tinggi, diameter dan jumlah cabang Indigofera zollingeriana dan tinggi, diameter dan jumlah anakan pennisetum purpureum cv Mott yang sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dari kombinasi K1, K2, K3, K4, namun berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan kombinasi K5. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi K5 yaitu jarak tanam Iz 1,00 m x 1,50 m dan Pp 1,00 m x 0,50 m merupakan jarak tanam yang optimal untuk mendapatkan pertumbuhan tertinggi dari Indigofera zollingeriana dan Pennisetum purpureum cv Mott.Kata Kunci: Jarak tanam, pertumbuhan, Indigofera, Pennisetum, tumpangsari","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"35 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89261090","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-07-31DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.43176
F. Nangoy, Hendrina Mandey, C. Sarajar, H. Manangkot
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan frekuensi dan durasi tingkah laku seksual kalkun pejantan (Meleagris gallopavo) berdasarkan umur yang berbeda. Materi penelitian menggunakan kalkun pejantan yang sudah dewasa kelamin berjumlah 9 ekor terdiri dari 3 ekor kalkun umur 24 bulan, 3 ekor kalkun umur 12 bulan, 3 ekor kalkun umur 8 bulan; betina sebanyak 27 ekor umur 6 – 7 bulan. Teknik pengambilan data menggunakkan metode scan sampling yaitu mencatat semua aktivitas yang terlihat dalam keseluruhan aktivitas harian. Variabel yang diukur yaitu courtship, mounting, mating, dan dismounting. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa frekuensi courtship terbanyak dilakukan oleh pejantan umur 8 bulan sebanyak 22,39 kali, dan durasi tercepat oleh pejantan umur 24 bulan selama 64,05 detik, frekuensi mounting terbanyak didapat oleh pejantan berumur 8 bulan yaitu sebanyak 0,57 kali dan durasi tercepat oleh pejantan umur 24 bulan selama 3,66 detik, frekuensi mating terbanyak dilakukan oleh pejantan umur 8 bulan sebanyak 0,50 kali dan durasi tercepat oleh pejantan umur 24 bulan yaitu selama 16,43 detik, dan frekuensi dismounting terbanyak dilakukan oleh pejantan umur 8 bulan sebanyak 0,57 kali dan frekuensi tercepat oleh pejantan umur 24 bulan selama 0,58 detik. Kesimpulannya adalah Frekuensi tingkah laku seksual terbanyak dilakukan oleh kalkun pejantan berumur 8 bulan. Sedangkan untuk durasi tingkah laku seksual tercepat dilakukan oleh kalkun pejantan yang berumur 24 bulan. Kata Kunci: Frekuensi dan durasi, tingkah laku seksual, kalkun
{"title":"Perbandingan frekuensi dan durasi tingkah laku seksual kalkun pejantan (Meleagris gallopavo) berdasarkan umur yang berbeda","authors":"F. Nangoy, Hendrina Mandey, C. Sarajar, H. Manangkot","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.43176","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.43176","url":null,"abstract":"Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan frekuensi dan durasi tingkah laku seksual kalkun pejantan (Meleagris gallopavo) berdasarkan umur yang berbeda. Materi penelitian menggunakan kalkun pejantan yang sudah dewasa kelamin berjumlah 9 ekor terdiri dari 3 ekor kalkun umur 24 bulan, 3 ekor kalkun umur 12 bulan, 3 ekor kalkun umur 8 bulan; betina sebanyak 27 ekor umur 6 – 7 bulan. Teknik pengambilan data menggunakkan metode scan sampling yaitu mencatat semua aktivitas yang terlihat dalam keseluruhan aktivitas harian. Variabel yang diukur yaitu courtship, mounting, mating, dan dismounting. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa frekuensi courtship terbanyak dilakukan oleh pejantan umur 8 bulan sebanyak 22,39 kali, dan durasi tercepat oleh pejantan umur 24 bulan selama 64,05 detik, frekuensi mounting terbanyak didapat oleh pejantan berumur 8 bulan yaitu sebanyak 0,57 kali dan durasi tercepat oleh pejantan umur 24 bulan selama 3,66 detik, frekuensi mating terbanyak dilakukan oleh pejantan umur 8 bulan sebanyak 0,50 kali dan durasi tercepat oleh pejantan umur 24 bulan yaitu selama 16,43 detik, dan frekuensi dismounting terbanyak dilakukan oleh pejantan umur 8 bulan sebanyak 0,57 kali dan frekuensi tercepat oleh pejantan umur 24 bulan selama 0,58 detik. Kesimpulannya adalah Frekuensi tingkah laku seksual terbanyak dilakukan oleh kalkun pejantan berumur 8 bulan. Sedangkan untuk durasi tingkah laku seksual tercepat dilakukan oleh kalkun pejantan yang berumur 24 bulan. Kata Kunci: Frekuensi dan durasi, tingkah laku seksual, kalkun","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"19 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"82515951","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-07-29DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.42714
V. N. Wawolangi, N. Santa, E. Wantasen
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis stuktur biaya dan efisiensi usaha ternak ayam ras petelur di Desa Liwutung Kecamatan Pasan Kabupaten Minahasa Tenggara. Menggunakan metode studi kasus, untuk mengetahui struktur biaya dan efisiensi usaha ternak ayam ras petelur menggunakan metode pengambilan data secara langsung, wawancara dengan menggunakan kuisoner pemilik perusahaan dan melihat pembukuan dari perusahaan. menggunakan analisis deskriptif yang dilengkapi dengan tabel dan model analisis biaya dengan rumus. Struktur biaya dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi tiga yakni (a) biaya peralatan meliputi biaya pembuatan kandang, tempat pakan, minum, gudang, dan lain-lain (b) biaya sapronak meliputi biaya untuk bibit, pakan, vitamin, obat-obatan dan (c) biaya operasional meliputi biaya gas, listrik, sekam, dan tenaga kerja. hasil perhitungan diketahui bahwa jumlah pendapatan usaha peternakan ayam ras petelur sebesar Rp601.613.600/periode atau Rp25.067.233/bulan. Pendapatan tersebut diperoleh dengan memelihara 5.000 ekor ayam ras petelur. diketahui bahwa nilai efisiensi usaha peternakan ayam ras petelur sebesar 1,15 artinya usaha ternak ayam ras petelur di desa liwutung kecamatan pasan kabupaten minahasa tenggara sudah efisien.
{"title":"Analisis struktur biaya dan efisiensi usaha ternak Ayam ras petelur di Kecamatan Pasan Kabupaten Minahasa Tenggara (Studi Kasus)","authors":"V. N. Wawolangi, N. Santa, E. Wantasen","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.42714","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.42714","url":null,"abstract":"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis stuktur biaya dan efisiensi usaha ternak ayam ras petelur di Desa Liwutung Kecamatan Pasan Kabupaten Minahasa Tenggara. Menggunakan metode studi kasus, untuk mengetahui struktur biaya dan efisiensi usaha ternak ayam ras petelur menggunakan metode pengambilan data secara langsung, wawancara dengan menggunakan kuisoner pemilik perusahaan dan melihat pembukuan dari perusahaan. menggunakan analisis deskriptif yang dilengkapi dengan tabel dan model analisis biaya dengan rumus. Struktur biaya dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi tiga yakni (a) biaya peralatan meliputi biaya pembuatan kandang, tempat pakan, minum, gudang, dan lain-lain (b) biaya sapronak meliputi biaya untuk bibit, pakan, vitamin, obat-obatan dan (c) biaya operasional meliputi biaya gas, listrik, sekam, dan tenaga kerja. hasil perhitungan diketahui bahwa jumlah pendapatan usaha peternakan ayam ras petelur sebesar Rp601.613.600/periode atau Rp25.067.233/bulan. Pendapatan tersebut diperoleh dengan memelihara 5.000 ekor ayam ras petelur. diketahui bahwa nilai efisiensi usaha peternakan ayam ras petelur sebesar 1,15 artinya usaha ternak ayam ras petelur di desa liwutung kecamatan pasan kabupaten minahasa tenggara sudah efisien.","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"105 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"82152368","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-07-28DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.42661
P. O. Waleleng, N. Santa, J. A. Tuwaidan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya keuntungan dan kelayakan finansial usaha peternakan ayam ras petelur UD.Tetey Permai. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode studi kasus pada usaha peternakan ayam ras petelur UD. Tetey Permai yang berada di Desa Tetey Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara pada bulan Januari – Februari 2022. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari wawancara secara langsung kepada responden dan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu keuntungan sebesar Rp5.246.971.423/tahun dengan pemeliharaan 32.000 ekor. Usaha peternakan ayam ras petelur UD.Tetey Permai sudah layak secara finansial yaitu nilai Net B/C = 1,619, nilai NPV = Rp. 29.062.519.469, IRR = 56,775 % dan Payback Period = 3,30 tahun (3 tahun 4 bulan). Analisis sensitivitas dengan kenaikan harga input sebesar 15% tidak memberi pengaruh terhadap kegiatan usaha peternakan ayam ras petelur.
{"title":"Analisis kelayakan usaha peternakan ayam ras petelur UD.Tetey Permai Di Desa Tetey Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara (Studi Kasus)","authors":"P. O. Waleleng, N. Santa, J. A. Tuwaidan","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.42661","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.42661","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya keuntungan dan kelayakan finansial usaha peternakan ayam ras petelur UD.Tetey Permai. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode studi kasus pada usaha peternakan ayam ras petelur UD. Tetey Permai yang berada di Desa Tetey Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara pada bulan Januari – Februari 2022. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari wawancara secara langsung kepada responden dan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu keuntungan sebesar Rp5.246.971.423/tahun dengan pemeliharaan 32.000 ekor. Usaha peternakan ayam ras petelur UD.Tetey Permai sudah layak secara finansial yaitu nilai Net B/C = 1,619, nilai NPV = Rp. 29.062.519.469, IRR = 56,775 % dan Payback Period = 3,30 tahun (3 tahun 4 bulan). Analisis sensitivitas dengan kenaikan harga input sebesar 15% tidak memberi pengaruh terhadap kegiatan usaha peternakan ayam ras petelur.","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"64 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89859654","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-07-18DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.42228
R. Gobel, L. Kalangi, M. Manese
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya produksi, penerimaan, pendapatan serta Break Event Point (BEP) peternak ayam broiler dengan open house system dan closed house system di Kabupaten Minahasa Utara pada bulan April dan Mei 2021. Penelitian ini menggunakan metode survey, dan penentuan sampel menggunakan metode Purpossive sampling. Peternakan milik Bapak Ardi Rondonuwu di Desa Talawaan, dipilih dengan pertimbangan merupakan satu-satunya peternak broiler closed house system. Peternakan open house system di Desa Mapanget, milik Ibu Antoneta Pinaria dipilih dengan pertimbangan bahwa responden berpengalaman, usahanya sering dinilai baik oleh perusahaan inti dilihat dari nilai Feed Convertion Rasio dan Indek Peformance. Hasil penelitian diperoleh jumlah biaya produksi per ekor, open house system Rp. 29.559, closed house system Rp. 30.451 dan penerimaan per ekor pada open house system Rp. 32.758, closed house system Rp. 39.273, dengan pendapatan per ekor open house system Rp. 2.770, closed house system Rp. 8.821 serta BEP harga Rp 17.870 pada open house system, Rp 18.332 pada closed house system, BEP unit 11.346 kg pada open house system, 15.888 kg pada closed house system. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa pendapatan usaha peternakan ayam broiler dengan closed house system lebih besar daripada usaha peternakan dengan open house system.
本研究旨在分析2014年4月和5月21日在北米纳哈萨区开放住房系统和关闭住房系统的生产成本、收入、收入和“休息活动点”。本研究采用调查方法,并采用采样方法进行样本鉴定。Ardi Rondonuwu先生在塔拉瓦村的农场,经过仔细选择,是broiler封闭家庭系统的唯一饲养者。安东内塔·皮纳里亚的母亲安东尼塔·皮纳里亚(Antoneta Pinaria)在Mapanget村的开放式系统农场是经过挑选的,她认为,经验丰富的受访者通常会根据核心公司的饲料转换比和Indek性能来判断她的工作质量。研究结果生产成本数量开放日尾巴,Rp Rp 29559,关屋系统。系统30451和接受系统的开放日上,每尾Rp 32758,封闭系统家族Rp。39273开放日,以每小时收入尾巴Rp Rp 2.770,关屋系统。系统8821和BEP 17870卢比的价格系统,Rp 18332开放日上关闭系统,BEP家单位11.346公斤系统,15888公斤开放日上封闭屋”系统。根据这项研究的结果,拥有关闭房屋系统的broiler养鸡业的收入比开放房屋系统的养鸡业还多。
{"title":"Analisis pendapatan peternak ayam broiler dengan open house system dan closed house system di Kabupaten Minahasa Utara","authors":"R. Gobel, L. Kalangi, M. Manese","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.42228","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.42228","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya produksi, penerimaan, pendapatan serta Break Event Point (BEP) peternak ayam broiler dengan open house system dan closed house system di Kabupaten Minahasa Utara pada bulan April dan Mei 2021. Penelitian ini menggunakan metode survey, dan penentuan sampel menggunakan metode Purpossive sampling. Peternakan milik Bapak Ardi Rondonuwu di Desa Talawaan, dipilih dengan pertimbangan merupakan satu-satunya peternak broiler closed house system. Peternakan open house system di Desa Mapanget, milik Ibu Antoneta Pinaria dipilih dengan pertimbangan bahwa responden berpengalaman, usahanya sering dinilai baik oleh perusahaan inti dilihat dari nilai Feed Convertion Rasio dan Indek Peformance. Hasil penelitian diperoleh jumlah biaya produksi per ekor, open house system Rp. 29.559, closed house system Rp. 30.451 dan penerimaan per ekor pada open house system Rp. 32.758, closed house system Rp. 39.273, dengan pendapatan per ekor open house system Rp. 2.770, closed house system Rp. 8.821 serta BEP harga Rp 17.870 pada open house system, Rp 18.332 pada closed house system, BEP unit 11.346 kg pada open house system, 15.888 kg pada closed house system. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa pendapatan usaha peternakan ayam broiler dengan closed house system lebih besar daripada usaha peternakan dengan open house system. ","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"27 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"80331862","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-07-15DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.42123
A. K. Rintjap, Z. Warouw, E. Wantasen
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah ada hubungan antara efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok peternak babi dalam mendapatkan informasi di Desa Tondegesan, Kelurahan Sendangan dan Kelurahan Sendangan Selatan Kecamatan Kawangkoan. Penelitian ini berbentuk survei dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden. Sampel lokasi penelitian diambil secara purposive sedangkan sampel jumlah responden diambil menggunakan quota sampling. Analisis data pada penelitian ini digunakan analisis rank spearman. Hasil penelitian yang dilakukan ini menunjukan bahwa efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok peternak babi dalam menerima informasi di Desa Tondegesan, Kelurahan Sendangan dan Kelurahan Sendangan Selatan Kecamatan Kawangkoan sudah baik. Berdasarkan hasil analisis rank spearman yaitu ada hubungan efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok dengan nilai 0,665 dan 0,539 sehingga hubungannya bersifat searah. Artinya bahwa semakin sering dilaksanakan penyuluhan kovensional terhadap kelompok peternak di Desa Tondegesan, Kelurahan Sendangan Selatan, dan Kelurahan Sendangan Kecamatan Kawangkoan maka semakin efektif pemahaman peternak tentang indikator dinamika kelompok dalam kelompok tani. Jadi berdasarkan interpretasi dari signifikan, kekuatan/keeratan dan arah hubungan maka Hipotesis H0 ditolak dan Hipotesis H1 diterima. Dari hasil analisis dapat di simpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok dalam mendapat informasi yang mempengaruhi peternak dalam berdinamika kelompok di Kecamatan Kawangkoan.
{"title":"Efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok peternak babi di Kecamatan Kawangkoan","authors":"A. K. Rintjap, Z. Warouw, E. Wantasen","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.42123","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.42123","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah ada hubungan antara efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok peternak babi dalam mendapatkan informasi di Desa Tondegesan, Kelurahan Sendangan dan Kelurahan Sendangan Selatan Kecamatan Kawangkoan. Penelitian ini berbentuk survei dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden. Sampel lokasi penelitian diambil secara purposive sedangkan sampel jumlah responden diambil menggunakan quota sampling. Analisis data pada penelitian ini digunakan analisis rank spearman. Hasil penelitian yang dilakukan ini menunjukan bahwa efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok peternak babi dalam menerima informasi di Desa Tondegesan, Kelurahan Sendangan dan Kelurahan Sendangan Selatan Kecamatan Kawangkoan sudah baik. Berdasarkan hasil analisis rank spearman yaitu ada hubungan efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok dengan nilai 0,665 dan 0,539 sehingga hubungannya bersifat searah. Artinya bahwa semakin sering dilaksanakan penyuluhan kovensional terhadap kelompok peternak di Desa Tondegesan, Kelurahan Sendangan Selatan, dan Kelurahan Sendangan Kecamatan Kawangkoan maka semakin efektif pemahaman peternak tentang indikator dinamika kelompok dalam kelompok tani. Jadi berdasarkan interpretasi dari signifikan, kekuatan/keeratan dan arah hubungan maka Hipotesis H0 ditolak dan Hipotesis H1 diterima. Dari hasil analisis dapat di simpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara efektivitas cara penyuluhan konvensional dengan dinamika kelompok dalam mendapat informasi yang mempengaruhi peternak dalam berdinamika kelompok di Kecamatan Kawangkoan. ","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"28 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"90610489","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-07-13DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.42026
Ajat Sudrajat, I. Budisatria, S. Bintara, R. Agustiar, R. Christi
Manajemen kesehatan dan keselamatan kerja penting untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan besar yang diiringi dengan kenaikan produksi, penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya. Tujuan penelitian untuk memberikan arahan pengaturan administrasi, hukum dan sistem teknis dalam pengendalian instalasi beresiko tinggi yang dilakukan dengan memberikan perlindungan kepada pekerja, masyarakat dan lingkungan dengan mencegah terjadinya kecelakaan besar yang mungkin terjadi dan meminimalisir dampak dari kecelakaan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini adalah metode survei dengan melakukan observasi langsung di lapangan, mengikuti kegiatan pembibitan dan budidaya ternak kambing PE, melakukan wawancara dengan pegawai, mempelajari penerapan K3L di Taman Ternak Kaligesing dan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Hasil menunjukkan bahwa penerapan kesehatan, keamanan, keselamatan kerja dan lingkungan belum sepenuhnya diterapkan di Taman Ternak Kaligesing. Keselamatan dan kesehatan kerja secara maksimal, terbukti masih ada pekerja yang tidak memakai APD dengan lengkap, instalasi listrik yang kurang tertata dengan baik, penggunaan chopper yang tidak ada pembatas keamanannya dan lain-lain. Selain itu potensi bahaya, resiko dan pencegahan dalam keselamatan kerja harus dipahami dengan baik oleh semua pekerja sehingga dapat melakukan pencegahan untuk meminimalisir kecelakaan kerja, bahaya kesehatan ataupun bahaya lainnya yang dapat merugikan banyak pihak khususnya di Taman Ternak Kaligesing.Kata kunci: Potensi bahaya, resiko, pencegahan, Taman Kaligesing
{"title":"Identifikasi potensi bahaya, resiko dan pencegahan kecelakaan kerja pada pembibitan kambing Peranakan Ettawa di Taman Ternak Kaligesing","authors":"Ajat Sudrajat, I. Budisatria, S. Bintara, R. Agustiar, R. Christi","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.42026","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.42026","url":null,"abstract":"Manajemen kesehatan dan keselamatan kerja penting untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan besar yang diiringi dengan kenaikan produksi, penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya. Tujuan penelitian untuk memberikan arahan pengaturan administrasi, hukum dan sistem teknis dalam pengendalian instalasi beresiko tinggi yang dilakukan dengan memberikan perlindungan kepada pekerja, masyarakat dan lingkungan dengan mencegah terjadinya kecelakaan besar yang mungkin terjadi dan meminimalisir dampak dari kecelakaan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini adalah metode survei dengan melakukan observasi langsung di lapangan, mengikuti kegiatan pembibitan dan budidaya ternak kambing PE, melakukan wawancara dengan pegawai, mempelajari penerapan K3L di Taman Ternak Kaligesing dan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Hasil menunjukkan bahwa penerapan kesehatan, keamanan, keselamatan kerja dan lingkungan belum sepenuhnya diterapkan di Taman Ternak Kaligesing. Keselamatan dan kesehatan kerja secara maksimal, terbukti masih ada pekerja yang tidak memakai APD dengan lengkap, instalasi listrik yang kurang tertata dengan baik, penggunaan chopper yang tidak ada pembatas keamanannya dan lain-lain. Selain itu potensi bahaya, resiko dan pencegahan dalam keselamatan kerja harus dipahami dengan baik oleh semua pekerja sehingga dapat melakukan pencegahan untuk meminimalisir kecelakaan kerja, bahaya kesehatan ataupun bahaya lainnya yang dapat merugikan banyak pihak khususnya di Taman Ternak Kaligesing.Kata kunci: Potensi bahaya, resiko, pencegahan, Taman Kaligesing","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"151 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"80742794","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-07-12DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.41964
H. Lapian
Pigs are one of the main types of livestock kept by humans because of their high reproductive system and the ability to survive in all kinds of conditions. Modern pigs have gone through a long history of domestication processes, ranging from migration, selection, adaptation, and other natural events. Important records of pig origins have divided the domestic pig population into two main groups namely Asian and European breeds. These two groups clearly separated about 58,000 years ago. In particular it is recorded that the European wild boar was domesticated around the 4th century BC. European pigs then got new genes since the introduction of the Asian pig which is thought to have occurred at the end of the 18th century. Domestication of pigs affects the genetic diversity of these animals which in turn will disrupt the availability of pig germplasm. However, the need for superior breeds with high productivity values will be indispensable given the increasing food supply for the community both in terms of food quality and quantity. This fulfilment is actually not just for a moment but in a very long and sustainable period, and the latter can only be fulfilled if the genetic resources of pigs are maintained through good gene conservation programs.Keywords: Pig, genetic diversity, domestication, livestock genetic conservation
{"title":"Domestication and genetic characteristics of pig – a review","authors":"H. Lapian","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.41964","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.41964","url":null,"abstract":"Pigs are one of the main types of livestock kept by humans because of their high reproductive system and the ability to survive in all kinds of conditions. Modern pigs have gone through a long history of domestication processes, ranging from migration, selection, adaptation, and other natural events. Important records of pig origins have divided the domestic pig population into two main groups namely Asian and European breeds. These two groups clearly separated about 58,000 years ago. In particular it is recorded that the European wild boar was domesticated around the 4th century BC. European pigs then got new genes since the introduction of the Asian pig which is thought to have occurred at the end of the 18th century. Domestication of pigs affects the genetic diversity of these animals which in turn will disrupt the availability of pig germplasm. However, the need for superior breeds with high productivity values will be indispensable given the increasing food supply for the community both in terms of food quality and quantity. This fulfilment is actually not just for a moment but in a very long and sustainable period, and the latter can only be fulfilled if the genetic resources of pigs are maintained through good gene conservation programs.Keywords: Pig, genetic diversity, domestication, livestock genetic conservation","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"28 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"84119786","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2022-07-12DOI: 10.35792/zot.42.2.2022.41966
S. N. Rumerung, N. Kumajas, C. J. Pontoh
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung daun dadap (Erythrina variegata Linn.) yang difermentasi dengan Pleurotus ostreatus dalam ransum babi terhadap kualitas karkas yang ditentukan oleh bobot karkas, persentase karkas dan tebal lemak punggung. Enam belas ekor babi jantan kastrasi persilangan Landrace x Yorkshire digunakan dalam penelitian ini, umur 5 sampai 6 minggu dengan berat badan awal 10 -16 kg ±1,94, . Menggunakan 4 macam pakan sebagai perlakuan, dalam percobaan Rancangan Acak Lengkap, di mana setiap perlakuan diulang empat kali. Empat pakan percobaan terdiri dari: R0 = pakan komersial; R1 = pakan komersial + tepung daun dadap fermentasi 5% (TDDF); R2 = pakan komersial + 10% TDDF; R = pakan komersial + 15% TDDF. Pengaruh perlakuan dianalisis secara statistik menggunakan analisis varians (ANOVA), dan jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot karkas, persentase karkas dan tebal lemak punggung. Artinya, semua perlakuan ransum, baik tanpa atau dengan tepung daun dadap fermentasi, tidak memberikan hasil yang berbeda terhadap bobot karkas, persentase karkas, dan tebal lemak punggung. Disimpulkan, daun dadap fermentasi dapat digunakan hingga 15% dalam pakan babi dan menghasilkan kualitas karkas relative sama.Kata kunci: Babi, tepung daun dadap (Erythrina variegata Linn.), kualitas karkas
{"title":"Kualitas karkas babi yang diberi pakan mengandung tepung daun dadap (Erythrina variegata Linn.) terfermentasi","authors":"S. N. Rumerung, N. Kumajas, C. J. Pontoh","doi":"10.35792/zot.42.2.2022.41966","DOIUrl":"https://doi.org/10.35792/zot.42.2.2022.41966","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung daun dadap (Erythrina variegata Linn.) yang difermentasi dengan Pleurotus ostreatus dalam ransum babi terhadap kualitas karkas yang ditentukan oleh bobot karkas, persentase karkas dan tebal lemak punggung. Enam belas ekor babi jantan kastrasi persilangan Landrace x Yorkshire digunakan dalam penelitian ini, umur 5 sampai 6 minggu dengan berat badan awal 10 -16 kg ±1,94, . Menggunakan 4 macam pakan sebagai perlakuan, dalam percobaan Rancangan Acak Lengkap, di mana setiap perlakuan diulang empat kali. Empat pakan percobaan terdiri dari: R0 = pakan komersial; R1 = pakan komersial + tepung daun dadap fermentasi 5% (TDDF); R2 = pakan komersial + 10% TDDF; R = pakan komersial + 15% TDDF. Pengaruh perlakuan dianalisis secara statistik menggunakan analisis varians (ANOVA), dan jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot karkas, persentase karkas dan tebal lemak punggung. Artinya, semua perlakuan ransum, baik tanpa atau dengan tepung daun dadap fermentasi, tidak memberikan hasil yang berbeda terhadap bobot karkas, persentase karkas, dan tebal lemak punggung. Disimpulkan, daun dadap fermentasi dapat digunakan hingga 15% dalam pakan babi dan menghasilkan kualitas karkas relative sama.Kata kunci: Babi, tepung daun dadap (Erythrina variegata Linn.), kualitas karkas","PeriodicalId":89263,"journal":{"name":"Revista zootecnica","volume":"19 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-07-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"79581553","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}