Pub Date : 2023-12-29DOI: 10.15408/empati.v12i2.37035
M. Hamdy, Hikma Rizkia
Abstract. Lanjut usia (lansia) merupakan salah satu tantangan penting di masa depan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi, mendeskripsikan, dan melihat sejauh mana implementasi kebijakan program Rantang Kanyaah di Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat untuk meningkatkan kesejahteraan lansia sebagai salah satu kebijakan sosial. Selain itu, tulisan ini juga berfungsi sebagai evaluasi kebijakan secara sederhana yang bisa dijadikan bahan tambahan dalam perbaikan kebijakan lansia pada khususnya dan kebijakan sosial pada umumnya. Berdasarkan Susenas 2021, Jawa Barat termasuk ke dalam delapan provinsi dengan struktur penduduk usia tua, yaitu mencapai 10,18% (sekitar 4,9 juta jiwa dari 48.220.094 jiwa) dengan 73% penduduk usia produktif. Sebanyak 140.019 penduduk tua tersebut ada di Kabupaten Majalengka. Program ini telah dilakukan Pemkab Majalengka dan merupakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial sebagai perlindungan sosial bagi lanjut usia yang sudah tidak potensial dan tidak produktif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi di lingkungan program, dan studi dokumentasi dari sumber data lembaga terkait dan dokumentasi pribadi. Aspek-aspek implementasi kebijakan Edward III dan teori kebutuhan Maslow digunakan sebagai alat analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program sudah berjalan cukup baik. Namun, terdapat beberapa hal yang dianggap belum berjalan maksimal, seperti komunikasi kurang efektif yang ditunjukkan oleh adanya beberapa ketidaksinkronan informasi antar implementor serta antara implementor dan penerima. Selain itu, tidak ada pengawasan dan evaluasi dari pemerintah desa dan daerah sehingga perbaikan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan dan lapangan tidak bisa dilaksanakan secara maksimal. Kata Kunci: Implementasi kebijakan, aspek-aspek implementasi kebijakan, lanjut usia lansia Abstract. Elderly is one of the future's significant challenges in social policy in Indonesia. This study aims to investigate and describe the extent to which the Rantang Kanyaah program was implemented in Majalengka Regency, West Java Province to promote the welfare of senior citizens. Furthermore, this writing can serve as an additional basic policy evaluation portrait that can be utilized to improve social policies of the elderly in particular and social policies in general. West Java is included in 8 (eight) provinces with an old age population structure, which reaches 10.18% (roughly 4.9 million people out of 48,220,094 people) with 73% of the productive age population, according to the 2021 National Surveys. Majalengka Regency has a total of 140,019 elderly residents. In a form of food assistance, the District Government of Majalengka carried out this initiative, which is the implementation of social welfare as social protection for the aged considered vulnerable. This study employs a descriptive qualitative methodology, data collected by interviews, program observat
{"title":"IMPLEMENTASI PROGRAM RANTANG KANYAAH DI DESA KALAPADUA KECAMATAN LEMAHSUGIH KABUPATEN MAJALENGKA","authors":"M. Hamdy, Hikma Rizkia","doi":"10.15408/empati.v12i2.37035","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i2.37035","url":null,"abstract":"Abstract. Lanjut usia (lansia) merupakan salah satu tantangan penting di masa depan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi, mendeskripsikan, dan melihat sejauh mana implementasi kebijakan program Rantang Kanyaah di Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat untuk meningkatkan kesejahteraan lansia sebagai salah satu kebijakan sosial. Selain itu, tulisan ini juga berfungsi sebagai evaluasi kebijakan secara sederhana yang bisa dijadikan bahan tambahan dalam perbaikan kebijakan lansia pada khususnya dan kebijakan sosial pada umumnya. Berdasarkan Susenas 2021, Jawa Barat termasuk ke dalam delapan provinsi dengan struktur penduduk usia tua, yaitu mencapai 10,18% (sekitar 4,9 juta jiwa dari 48.220.094 jiwa) dengan 73% penduduk usia produktif. Sebanyak 140.019 penduduk tua tersebut ada di Kabupaten Majalengka. Program ini telah dilakukan Pemkab Majalengka dan merupakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial sebagai perlindungan sosial bagi lanjut usia yang sudah tidak potensial dan tidak produktif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi di lingkungan program, dan studi dokumentasi dari sumber data lembaga terkait dan dokumentasi pribadi. Aspek-aspek implementasi kebijakan Edward III dan teori kebutuhan Maslow digunakan sebagai alat analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program sudah berjalan cukup baik. Namun, terdapat beberapa hal yang dianggap belum berjalan maksimal, seperti komunikasi kurang efektif yang ditunjukkan oleh adanya beberapa ketidaksinkronan informasi antar implementor serta antara implementor dan penerima. Selain itu, tidak ada pengawasan dan evaluasi dari pemerintah desa dan daerah sehingga perbaikan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan dan lapangan tidak bisa dilaksanakan secara maksimal. Kata Kunci: Implementasi kebijakan, aspek-aspek implementasi kebijakan, lanjut usia lansia Abstract. Elderly is one of the future's significant challenges in social policy in Indonesia. This study aims to investigate and describe the extent to which the Rantang Kanyaah program was implemented in Majalengka Regency, West Java Province to promote the welfare of senior citizens. Furthermore, this writing can serve as an additional basic policy evaluation portrait that can be utilized to improve social policies of the elderly in particular and social policies in general. West Java is included in 8 (eight) provinces with an old age population structure, which reaches 10.18% (roughly 4.9 million people out of 48,220,094 people) with 73% of the productive age population, according to the 2021 National Surveys. Majalengka Regency has a total of 140,019 elderly residents. In a form of food assistance, the District Government of Majalengka carried out this initiative, which is the implementation of social welfare as social protection for the aged considered vulnerable. This study employs a descriptive qualitative methodology, data collected by interviews, program observat","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":" 26","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139143181","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-12-29DOI: 10.15408/empati.v12i2.34066
Firda Dwi Anjani, Binahayati Rusyidi, M. Fedryansyah
Abstract. The implementation of SLRT must seek the application of legal, responsive, transparent, participatory, gender equality, accountable, objective, and sustainable principles. Bandung Regency is an area that has held SLRT since 2016 until now and has received Best Practice achievements from the Ministry of Social Affairs. In fact, the characteristics of the region can be a challenge for the implementation of the SLRT implementation principle. Namely, the male population is greater than the female population, the area is large and consists of lowlands and highlands, and the 69 OPDs have their own programs and target recipients. The researcher wants to know how the Bandung Regency SLRT applies the principles of its implementation by using a human rights-based approach theory. This is because there is harmony between the principles of implementing SLRT and human rights principles in the form of participation, accountability, non-discrimination and equity. Information regarding the implementation of SLRT Bandung Regency is presented using qualitative data, sourced from interviews, non-participant observation, and literature studies. The findings of the study state that the implementation of SLRT in Bandung Regency shows active community participation and differences in treatment in the delivery of services that support substantive gender equality. On the other hand, not all OPDs in Bandung Regency have succeeded in integrating their programs and program beneficiary targets with SLRT. Thus, service delivery is not fully sustainable. However, this is not a form of government reluctance, but rather due to limited resources. Keywords: Implementation of SLRT; Human Rights-Based Approach; Human Rights Principle. Abstrak. Penyelenggaraan SLRT harus mengupayakan penerapan asas legal, responsif, transparan, partisipatif, kesetaraan gender, akuntabel, objektif, dan berkelanjutan. Kabupaten Bandung merupakan daerah yang telah menyelenggarakan SLRT sejak tahun 2016 hingga saat ini dan mendapatkan prestasi Best Practice dari Kementerian Sosial. Padahal, karakteristik wilayahnya dapat menjadi tantangan diterapkannya asas penyelenggaraan SLRT. Yaitu, jumlah penduduk laki-laki yang lebih banyak dibandingkan perempuan, wilayah yang luas dan terdiri atas dataran rendah dan tinggi, serta 69 OPD yang memiliki program dan sasaran penerimanya masing-masing. Peneliti ingin mengetahui bagaimana SLRT Kabupaten Bandung menerapkan asas penyelenggaraannya dengan menggunakan teori pendekatan berbasis HAM. Pasalnya, terdapat keselarasan antara asas penyelenggaraan SLRT dengan prinsip HAM berupa partisipasi, akuntabilitas, non diskriminasi dan ekuitas. Informasi mengenai penyelenggaraan SLRT Kabupaten Bandung disajikan menggunakan data kualitatif, bersumber dari kegiatan wawancara, observasi non partisipan, dan studi literatur. Hasil temuan penelitian menyatakan penyelenggaraan SLRT Kabupaten Bandung menunjukkan upaya partisipasi aktif masyarakat dan perbedaan perlakuan dala
{"title":"PENERAPAN PRINSIP HAM PADA SISTEM LAYANAN DAN RUJUKAN TERPADU (SLRT) DI KABUPATEN BANDUNG","authors":"Firda Dwi Anjani, Binahayati Rusyidi, M. Fedryansyah","doi":"10.15408/empati.v12i2.34066","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i2.34066","url":null,"abstract":"Abstract. The implementation of SLRT must seek the application of legal, responsive, transparent, participatory, gender equality, accountable, objective, and sustainable principles. Bandung Regency is an area that has held SLRT since 2016 until now and has received Best Practice achievements from the Ministry of Social Affairs. In fact, the characteristics of the region can be a challenge for the implementation of the SLRT implementation principle. Namely, the male population is greater than the female population, the area is large and consists of lowlands and highlands, and the 69 OPDs have their own programs and target recipients. The researcher wants to know how the Bandung Regency SLRT applies the principles of its implementation by using a human rights-based approach theory. This is because there is harmony between the principles of implementing SLRT and human rights principles in the form of participation, accountability, non-discrimination and equity. Information regarding the implementation of SLRT Bandung Regency is presented using qualitative data, sourced from interviews, non-participant observation, and literature studies. The findings of the study state that the implementation of SLRT in Bandung Regency shows active community participation and differences in treatment in the delivery of services that support substantive gender equality. On the other hand, not all OPDs in Bandung Regency have succeeded in integrating their programs and program beneficiary targets with SLRT. Thus, service delivery is not fully sustainable. However, this is not a form of government reluctance, but rather due to limited resources. Keywords: Implementation of SLRT; Human Rights-Based Approach; Human Rights Principle. Abstrak. Penyelenggaraan SLRT harus mengupayakan penerapan asas legal, responsif, transparan, partisipatif, kesetaraan gender, akuntabel, objektif, dan berkelanjutan. Kabupaten Bandung merupakan daerah yang telah menyelenggarakan SLRT sejak tahun 2016 hingga saat ini dan mendapatkan prestasi Best Practice dari Kementerian Sosial. Padahal, karakteristik wilayahnya dapat menjadi tantangan diterapkannya asas penyelenggaraan SLRT. Yaitu, jumlah penduduk laki-laki yang lebih banyak dibandingkan perempuan, wilayah yang luas dan terdiri atas dataran rendah dan tinggi, serta 69 OPD yang memiliki program dan sasaran penerimanya masing-masing. Peneliti ingin mengetahui bagaimana SLRT Kabupaten Bandung menerapkan asas penyelenggaraannya dengan menggunakan teori pendekatan berbasis HAM. Pasalnya, terdapat keselarasan antara asas penyelenggaraan SLRT dengan prinsip HAM berupa partisipasi, akuntabilitas, non diskriminasi dan ekuitas. Informasi mengenai penyelenggaraan SLRT Kabupaten Bandung disajikan menggunakan data kualitatif, bersumber dari kegiatan wawancara, observasi non partisipan, dan studi literatur. Hasil temuan penelitian menyatakan penyelenggaraan SLRT Kabupaten Bandung menunjukkan upaya partisipasi aktif masyarakat dan perbedaan perlakuan dala","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":" 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139143635","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-12-29DOI: 10.15408/empati.v12i2.35532
Nadya Kharima, A. Zaky
Abstract. This study investigates gender-based violence prevention by spiritual counselors at LK3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, a state Islamic university. In response to the alarming rates of gender-based violence in universities, the study delves into LK3's efforts to address this issue. Utilizing qualitative methods, including interviews, observations, and literature analysis, the research sheds light on the spiritual counselors' role. Findings highlight a lack of student awareness regarding gender-based violence, including prevalent instances of bullying and derogatory remarks. Spiritual counselors bridge this gap by imparting religious knowledge and supporting vulnerable students. Their proactive strategies involve religious education and emotional assistance, fostering a safer and more respectful university environment. Keywords: Gender-Based Violence, Spiritual Counselors, Prevention Strategies, Higher Education Institutions, Religious Education. Abstrak. Penelitian ini menggali upaya pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) oleh konselor spiritual di Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menghadapi angka KBG yang tinggi di perguruan tinggi. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wawancara, observasi, dan literatur, penelitian ini memberikan gambaran pencegahan KBG dari perspektif spiritual konselor LK3. Temuan menyoroti minimnya pemahaman mahasiswa mengenai KBG, termasuk kasus perundungan dan penghinaan seksis. Konselor spiritual memainkan peran kunci dalam mengisi kesenjangan ini melalui pengetahuan agama dan dukungan emosional. Strategi pencegahan melibatkan edukasi agama dan pendampingan mahasiswa yang rentan terhadap KBG. Penelitian ini menekankan pentingnya bimbingan spiritual dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih aman dan hormat bagi semua mahasiswa. Kata Kunci: Kekerasan, Gender, Spiritual.
{"title":"PENCEGAHAN KEKERASAN BERBASIS GENDER OLEH KONSELOR SPIRITUAL DI LK3 UIN JAKARTA","authors":"Nadya Kharima, A. Zaky","doi":"10.15408/empati.v12i2.35532","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i2.35532","url":null,"abstract":"Abstract. This study investigates gender-based violence prevention by spiritual counselors at LK3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, a state Islamic university. In response to the alarming rates of gender-based violence in universities, the study delves into LK3's efforts to address this issue. Utilizing qualitative methods, including interviews, observations, and literature analysis, the research sheds light on the spiritual counselors' role. Findings highlight a lack of student awareness regarding gender-based violence, including prevalent instances of bullying and derogatory remarks. Spiritual counselors bridge this gap by imparting religious knowledge and supporting vulnerable students. Their proactive strategies involve religious education and emotional assistance, fostering a safer and more respectful university environment. Keywords: Gender-Based Violence, Spiritual Counselors, Prevention Strategies, Higher Education Institutions, Religious Education. Abstrak. Penelitian ini menggali upaya pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) oleh konselor spiritual di Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menghadapi angka KBG yang tinggi di perguruan tinggi. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wawancara, observasi, dan literatur, penelitian ini memberikan gambaran pencegahan KBG dari perspektif spiritual konselor LK3. Temuan menyoroti minimnya pemahaman mahasiswa mengenai KBG, termasuk kasus perundungan dan penghinaan seksis. Konselor spiritual memainkan peran kunci dalam mengisi kesenjangan ini melalui pengetahuan agama dan dukungan emosional. Strategi pencegahan melibatkan edukasi agama dan pendampingan mahasiswa yang rentan terhadap KBG. Penelitian ini menekankan pentingnya bimbingan spiritual dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih aman dan hormat bagi semua mahasiswa. Kata Kunci: Kekerasan, Gender, Spiritual.","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":"116 2","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139146311","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-12-29DOI: 10.15408/empati.v12i2.32157
Hastin Trustisari, Mahatir Muhammad
Abstract. This study aims to provide an overview of the implementation of augmentative alternative communication (AAC) technology to support communication skills for multiple disability with visual impairment in the family. A qualitative descriptive approach was used to describe the involvement of adult siblings in the daily activities of individuals with multiple disability with visual impairment using AAC technology at home. The researcher conducted a literature review, in-depth interviews, and observations with four adult siblings, consisting of two siblings living in families with visually impaired parents and two other siblings in non-disabled families. The results of this study showed that there were differences in the roles played by adult siblings in disabled and non-disabled families in the implementation of AAC technology at home. This study suggests that the involvement of adult siblings is influenced by role allocation, family-school connections, parental limitations, parental roles and autonomy, and the presence of caregivers at home. The lack of school programs designed to prepare families to assist students in applying AAC technology at home has led to inconsistencies in the use of communication aids. The implications of this study suggest the possibility of further research to encourage collaborative programs between schools and parents, including the role of social workers in schools to promote the involvement of family members in improving communication skills for individuals with multiple disability with visual impairment.Top of Form Keywords: Commnucation technology, AAC, alternative communication, multiple disabilities, sibling involvement. Abstrak. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran penerapan teknologi augmentative alternative communication/AAC untuk mendukung keterampilan komunikasi bagi penyandang disabilitas netra ganda di keluarga. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan keterlibatan saudara kandung dewasa pada aktivitas keseharian disabilitas netra ganda menggunakan teknologi AAC di rumah. Peneliti melakukan studi literatur, wawancara mendalam dan observasi pada 4 sibling dewasa yang terdiri dari 2 sibling di keluarga dengan orang tua tunanetra dan 2 sibling lainnya di keluarga non-disabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara peran yang ditunjukkan sibling dewasa pada keluarga disabilitas dan nondisabilitas pada penerapan teknologi AAC di keluarga. Penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan sibling dewasa dipengaruhi oleh pembagian peran, keterhubungan keluarga dengan sekolah, keterbatasan orang tua, peran dan otonomi orang tua, serta keberadaan pengasuh di rumah. Minimnya program sekolah yang direncanakan untuk mempersiapkan keluarga mendampingi siswa dalam menerapkan teknologi AAC di rumah, ternyata memicu adanya ketidakkonsistenan dalam penggunaan alat bantu komunikasi. Penelitian ini mengharuskan penelitian lanjutan untuk mendorong program kolaboras
{"title":"PENERAPAN TEKNOLOGI AUGMENTATIF ALTERNATIVE COMMUNICATION/AAC PADA DISABILITAS NETRA GANDA: TANTANGAN KETERLIBATAN SAUDARA KANDUNG","authors":"Hastin Trustisari, Mahatir Muhammad","doi":"10.15408/empati.v12i2.32157","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i2.32157","url":null,"abstract":"Abstract. This study aims to provide an overview of the implementation of augmentative alternative communication (AAC) technology to support communication skills for multiple disability with visual impairment in the family. A qualitative descriptive approach was used to describe the involvement of adult siblings in the daily activities of individuals with multiple disability with visual impairment using AAC technology at home. The researcher conducted a literature review, in-depth interviews, and observations with four adult siblings, consisting of two siblings living in families with visually impaired parents and two other siblings in non-disabled families. The results of this study showed that there were differences in the roles played by adult siblings in disabled and non-disabled families in the implementation of AAC technology at home. This study suggests that the involvement of adult siblings is influenced by role allocation, family-school connections, parental limitations, parental roles and autonomy, and the presence of caregivers at home. The lack of school programs designed to prepare families to assist students in applying AAC technology at home has led to inconsistencies in the use of communication aids. The implications of this study suggest the possibility of further research to encourage collaborative programs between schools and parents, including the role of social workers in schools to promote the involvement of family members in improving communication skills for individuals with multiple disability with visual impairment.Top of Form Keywords: Commnucation technology, AAC, alternative communication, multiple disabilities, sibling involvement. Abstrak. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran penerapan teknologi augmentative alternative communication/AAC untuk mendukung keterampilan komunikasi bagi penyandang disabilitas netra ganda di keluarga. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan keterlibatan saudara kandung dewasa pada aktivitas keseharian disabilitas netra ganda menggunakan teknologi AAC di rumah. Peneliti melakukan studi literatur, wawancara mendalam dan observasi pada 4 sibling dewasa yang terdiri dari 2 sibling di keluarga dengan orang tua tunanetra dan 2 sibling lainnya di keluarga non-disabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara peran yang ditunjukkan sibling dewasa pada keluarga disabilitas dan nondisabilitas pada penerapan teknologi AAC di keluarga. Penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan sibling dewasa dipengaruhi oleh pembagian peran, keterhubungan keluarga dengan sekolah, keterbatasan orang tua, peran dan otonomi orang tua, serta keberadaan pengasuh di rumah. Minimnya program sekolah yang direncanakan untuk mempersiapkan keluarga mendampingi siswa dalam menerapkan teknologi AAC di rumah, ternyata memicu adanya ketidakkonsistenan dalam penggunaan alat bantu komunikasi. Penelitian ini mengharuskan penelitian lanjutan untuk mendorong program kolaboras","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":" 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139142458","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-12-29DOI: 10.15408/empati.v12i2.35112
Salsabila Firdhausiyah, Silverius Djuni Prihatin
Abstract. This Every company is required to carry out its social responsibilities. The Corporate Social Responsibility (CSR) program is one way to fulfill this obligation. The empowerment program for Ayam Petelur Bageur breeders in Tugubandung Village, Kabandungan District, Sukabumi Regency is a form of social responsibility carried out by Star Energy Geothermal Salak, Ltd. through its community development program. The purpose of this research is to determine the magnitude of the influence of communication, resources, disposition and bureaucratic structure on the level of success of the Ayam Petelur Bageur Empowerment Program. This research uses a quantitative research design which is then supported by qualitative data. The survey method was used to collect quantitative data with a questionnaire instrument, while qualitative data was obtained through in-depth interview guides. The research results show that the factors that influence the success of the community empowerment program, which as an independent variable are in the medium category. In communication (X1) the percentage is at 67%. Then the resource (X2) total percentage is 70%. In disposition (X3) the resulting percentage is 77%. And the resulting bureaucratic structure (X4) percentage is 67%. Meanwhile, the success rate of the Ayam Petelur Bageur empowerment program (Y), which is the dependent variable, is also in the medium category with a percentage of 63.33%. So it can be concluded that communication (X1), resources (X2), disposition (X3), and bureaucratic structure (X4) have a significant influence on the level of success of the Ayam Petelur Bageur empowerment program (Y) with a large influence of 43.1% which is in the medium category. Meanwhile the other 56.9% is influenced by other variables not included in this study or influenced by other factors. Keywords: Community Development, Success of Community Empowerment Programs, Factors Influencing Community Empowerment Program. Abstrak. Setiap perusahaan diharuskan untuk menjalankan tanggung jawab sosialnya. Program Corporate Social Responsibility (CSR) adalah salah satu cara untuk memenuhi kewajiban tersebut. Program pemberdayaan peternak Ayam Petelur Bageur di Desa Tugubandung, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi adalah salah satu bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh Star Energy Geothermal Salak, Ltd. melalui program community development-nya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui besarnya pengaruh komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi terhadap tingkat keberhasilan Program Pemberdayaan Ayam Petelur Bageur. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif yang kemudian didukung oleh data kualitatif. Metode survei digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif dengan instrumen kuesioner, sedangkan data kualitatif didapatkan melalui panduan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan program pemberdayaan masyarakat, yang mana s
{"title":"KEBERHASILAN PROGRAM PEMBERDAYAAN AYAM PETELUR BAGEUR DI AREA USAHA SEGS, Ltd","authors":"Salsabila Firdhausiyah, Silverius Djuni Prihatin","doi":"10.15408/empati.v12i2.35112","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i2.35112","url":null,"abstract":"Abstract. This Every company is required to carry out its social responsibilities. The Corporate Social Responsibility (CSR) program is one way to fulfill this obligation. The empowerment program for Ayam Petelur Bageur breeders in Tugubandung Village, Kabandungan District, Sukabumi Regency is a form of social responsibility carried out by Star Energy Geothermal Salak, Ltd. through its community development program. The purpose of this research is to determine the magnitude of the influence of communication, resources, disposition and bureaucratic structure on the level of success of the Ayam Petelur Bageur Empowerment Program. This research uses a quantitative research design which is then supported by qualitative data. The survey method was used to collect quantitative data with a questionnaire instrument, while qualitative data was obtained through in-depth interview guides. The research results show that the factors that influence the success of the community empowerment program, which as an independent variable are in the medium category. In communication (X1) the percentage is at 67%. Then the resource (X2) total percentage is 70%. In disposition (X3) the resulting percentage is 77%. And the resulting bureaucratic structure (X4) percentage is 67%. Meanwhile, the success rate of the Ayam Petelur Bageur empowerment program (Y), which is the dependent variable, is also in the medium category with a percentage of 63.33%. So it can be concluded that communication (X1), resources (X2), disposition (X3), and bureaucratic structure (X4) have a significant influence on the level of success of the Ayam Petelur Bageur empowerment program (Y) with a large influence of 43.1% which is in the medium category. Meanwhile the other 56.9% is influenced by other variables not included in this study or influenced by other factors. Keywords: Community Development, Success of Community Empowerment Programs, Factors Influencing Community Empowerment Program. Abstrak. Setiap perusahaan diharuskan untuk menjalankan tanggung jawab sosialnya. Program Corporate Social Responsibility (CSR) adalah salah satu cara untuk memenuhi kewajiban tersebut. Program pemberdayaan peternak Ayam Petelur Bageur di Desa Tugubandung, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi adalah salah satu bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh Star Energy Geothermal Salak, Ltd. melalui program community development-nya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui besarnya pengaruh komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi terhadap tingkat keberhasilan Program Pemberdayaan Ayam Petelur Bageur. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif yang kemudian didukung oleh data kualitatif. Metode survei digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif dengan instrumen kuesioner, sedangkan data kualitatif didapatkan melalui panduan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan program pemberdayaan masyarakat, yang mana s","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":" 32","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139144556","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-12-29DOI: 10.15408/empati.v12i2.35370
Yudhistira Anugerah Pratama, S. T. Raharjo, R. Resnawaty
Abstract. Waste bank is one of the efforts based on policies to preserve the environment. Similarly, Sukarame Village, Pacet District, Bandung Regency began to establish a waste bank with the same goal. This study aims to evaluate policies through four dimensions which include legislation, background and objectives, member participation, and source system support. Qualitative descriptive methods are used, supported by observation, interviews, and literature reviews. The results showed that although the available source system has played an active role, most of the dimensions of policy evaluation in the waste bank in Sukarame Village have not been implemented optimally. Based on these findings, researchers suggest several efforts to optimize policies in waste banks in Sukarame Village, such as increasing socialization and education, increasing social campaigns, providing facilities, regulations, and resources, providing incentives and rewards, and forming a strong network. Keywords: legislation; member participation; sourcing system support; waste bank. Abstrak: Bank sampah merupakan salah satu upaya yang dilandasi oleh kebijakan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Begitu pula dengan Desa Sukarame, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung yang mulai mendirikan bank sampah dengan tujuan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kebijakan melalui empat dimensi yang meliputi peraturan perundang-undangan, latar belakang dan tujuan, partisipasi anggota, dan dukungan sistem sumber. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang didukung dengan observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sistem sumber yang tersedia telah berperan aktif, namun sebagian besar dimensi evaluasi kebijakan pada bank sampah di Kelurahan Sukarame belum terlaksana secara optimal. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menyarankan beberapa upaya untuk mengoptimalkan kebijakan di bank sampah di Kelurahan Sukarame, seperti meningkatkan sosialisasi dan edukasi, meningkatkan kampanye sosial, menyediakan fasilitas, peraturan, dan sumber daya, memberikan insentif dan penghargaan, serta membentuk jaringan yang kuat. Kata kunci: legislasi, partisipasi anggota, dukungan sistem sumber, bank sampah.
{"title":"POLICY EVALUATION IN WASTE BANK IN SUKARAME VILLAGE, PACET DISTRICT, BANDUNG REGENCY","authors":"Yudhistira Anugerah Pratama, S. T. Raharjo, R. Resnawaty","doi":"10.15408/empati.v12i2.35370","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i2.35370","url":null,"abstract":"Abstract. Waste bank is one of the efforts based on policies to preserve the environment. Similarly, Sukarame Village, Pacet District, Bandung Regency began to establish a waste bank with the same goal. This study aims to evaluate policies through four dimensions which include legislation, background and objectives, member participation, and source system support. Qualitative descriptive methods are used, supported by observation, interviews, and literature reviews. The results showed that although the available source system has played an active role, most of the dimensions of policy evaluation in the waste bank in Sukarame Village have not been implemented optimally. Based on these findings, researchers suggest several efforts to optimize policies in waste banks in Sukarame Village, such as increasing socialization and education, increasing social campaigns, providing facilities, regulations, and resources, providing incentives and rewards, and forming a strong network. Keywords: legislation; member participation; sourcing system support; waste bank. Abstrak: Bank sampah merupakan salah satu upaya yang dilandasi oleh kebijakan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Begitu pula dengan Desa Sukarame, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung yang mulai mendirikan bank sampah dengan tujuan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kebijakan melalui empat dimensi yang meliputi peraturan perundang-undangan, latar belakang dan tujuan, partisipasi anggota, dan dukungan sistem sumber. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang didukung dengan observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sistem sumber yang tersedia telah berperan aktif, namun sebagian besar dimensi evaluasi kebijakan pada bank sampah di Kelurahan Sukarame belum terlaksana secara optimal. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menyarankan beberapa upaya untuk mengoptimalkan kebijakan di bank sampah di Kelurahan Sukarame, seperti meningkatkan sosialisasi dan edukasi, meningkatkan kampanye sosial, menyediakan fasilitas, peraturan, dan sumber daya, memberikan insentif dan penghargaan, serta membentuk jaringan yang kuat. Kata kunci: legislasi, partisipasi anggota, dukungan sistem sumber, bank sampah.","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":"28 4","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139145912","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-12-29DOI: 10.15408/empati.v12i2.35808
Adlia Rahma Maulida, H. A. Rachim, Eva Nuriyah Hidayat
Abstract. The process of evaluating the quality of a program is essential in a service organization. This research aims to evaluate the service program process for correctional students at LPKA Class II Jakarta. This research is based on the evaluation concept according to Pietrzak et al which consists of four dimensions of service process evaluation: best practice standards, agency policies, process goals, and client satisfaction. This research method uses a qualitative approach using non-participatory observation techniques, in-depth interviews and a literature study. The research results show that the quality of the Development Program services at LPKA Class II Jakarta in the best practice standard dimension is under the SOP, institutional policies are running according to provisions, and long-term and short-term process goals have been implemented. In client satisfaction, service quality has been met, and LPKA Class II Jakarta has implemented a sound education service management system by implementing fair and non-discriminatory coaching. It can be concluded that the ongoing coaching program has been run by applicable provisions and standards with the implementation of process objectives and the fulfilment of inclusive education services. In the absence of social workers in the correctional sector at LPKA Class II Jakarta, some roles are not being carried out. This research further recommends the application of social welfare science and the part of correctional social workers in the practice of developing students in correctional institutions.Keywords: Program evaluation; correctional; children against the law Abstrak. Proses evaluasi kualitas suatu program sangat penting dalam suatu organisai pelayanan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi proses program layanan kepada correctional students pemasyarakatan di LPKA Kelas II Jakarta. Kajian ini didasarkan atas konsep evaluasi menurut Pietrzak, dkk yang terdiri dari empat dimensi evaluasi proses pelayanan; standar praktik terbaik, kebijakan lembaga, tujuan proses, dan kepuasan klien. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik observasi non partisipatif, wawancara mendalam dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan Program Pembinaan di LPKA Kelas II Jakarta dalam dimensi standar praktik terbaik berjalan sesuai SOP, kebijakan lembaga berjalan sesuai ketentuan, pada tujuan proses jangka panjang dan jangka pendek sudah terlaksana. Dalam dimensi kepuasan klien kualitas layanan sudah terpenuhi dan pihak LPKA Kelas II Jakarta sudah menerapkan sistem manajemen pelayanan pendidikan yang baik dengan memberlakukan pembinaan yang adil dan tidak membeda-bedakan. Dapat disimpulkan bahwa program pembinaan yang berlangsung sudah berjalan sesuai ketentuan dan standar yang berlaku dengan terlaksananya tujuan proses serta terpenuhinya pelayanan pendidikan yang inklusif. Dengan tidak adanya pekerja sosial di bidang koreksional pada LPKA Kelas I
摘要对服务机构而言,评估项目质量的过程至关重要。本研究的目的是评估雅加达 LPKA 二级惩教所学生的服务项目过程。本研究以 Pietrzak 等人提出的评估概念为基础,该概念包括服务流程评估的四个方面:最佳实践标准、机构政策、流程目标和客户满意度。本研究方法采用定性方法,使用非参与性观察技术、深度访谈和文献研究。研究结果表明,在最佳实践标准维度上,雅加达 LPKA 二级机构的发展项目服务质量符合 SOP 标准,机构政策按规定执行,长期和短期过程目标均已落实。在客户满意度方面,服务质量达标,雅加达 LPKA 二级通过实施公平、无歧视的辅导,建立了完善的教育服务管理体系。可以得出的结论是,正在进行的辅导计划是按照适用的规定和标准实施的,并实现了过程目标和全纳教育服务。由于雅加达二级监狱(LPKA Class II Jakarta)的教养部门没有社会工作者,因此有些职责没有得到履行。本研究进一步建议在教养机构的学生发展实践中应用社会福利科学和教养社会工作者:项目评估;教养;违法儿童 摘要。在服务机构中,对项目质量进行评估的过程非常重要。本研究旨在评估雅加达LPKA二班教养学生的服务项目过程。本研究基于皮特扎克(Pietrzak)等人提出的评价概念,该概念包括服务流程评价的四个方面:最佳实践标准、机构政策、流程目标和客户满意度。该研究方法采用了定性方法,使用了非参与性观察技术、深度访谈和文献研究。结果表明,在最佳实践标准方面,雅加达 LPKA 二级学院的发展项目服务质量符合《标准作业程序》,机构政策符合规定,长期和短期过程目标均已落实。在客户满意度方面,雅加达 LPKA(雅加达第二语言学校)的服务质量得到了保证,通过实施公平、无歧视的辅导,实施了良好的教育服务管理体系。可以得出的结论是,正在实施的辅导计划一直是按照适用的法规和标准进行的,并实现了过程目标和全纳教育服务。由于雅加达 LPKA 二级学校的教养领域没有社会工作者,因此有些角色没有得到履行。本研究进一步建议在教养机构辅导教养学生的实践中应用社会福利科学并发挥教养社会工作者的作用。关键词项目评估、辅导、违法儿童
{"title":"THE IMPORTANCE OF CHILDREN CORRECTIONAL INSTITUTION PROGRAM EVALUATION: AN EFFORT TO FULFILL CHILDREN'S RIGHTS","authors":"Adlia Rahma Maulida, H. A. Rachim, Eva Nuriyah Hidayat","doi":"10.15408/empati.v12i2.35808","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i2.35808","url":null,"abstract":"Abstract. The process of evaluating the quality of a program is essential in a service organization. This research aims to evaluate the service program process for correctional students at LPKA Class II Jakarta. This research is based on the evaluation concept according to Pietrzak et al which consists of four dimensions of service process evaluation: best practice standards, agency policies, process goals, and client satisfaction. This research method uses a qualitative approach using non-participatory observation techniques, in-depth interviews and a literature study. The research results show that the quality of the Development Program services at LPKA Class II Jakarta in the best practice standard dimension is under the SOP, institutional policies are running according to provisions, and long-term and short-term process goals have been implemented. In client satisfaction, service quality has been met, and LPKA Class II Jakarta has implemented a sound education service management system by implementing fair and non-discriminatory coaching. It can be concluded that the ongoing coaching program has been run by applicable provisions and standards with the implementation of process objectives and the fulfilment of inclusive education services. In the absence of social workers in the correctional sector at LPKA Class II Jakarta, some roles are not being carried out. This research further recommends the application of social welfare science and the part of correctional social workers in the practice of developing students in correctional institutions.Keywords: Program evaluation; correctional; children against the law Abstrak. Proses evaluasi kualitas suatu program sangat penting dalam suatu organisai pelayanan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi proses program layanan kepada correctional students pemasyarakatan di LPKA Kelas II Jakarta. Kajian ini didasarkan atas konsep evaluasi menurut Pietrzak, dkk yang terdiri dari empat dimensi evaluasi proses pelayanan; standar praktik terbaik, kebijakan lembaga, tujuan proses, dan kepuasan klien. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik observasi non partisipatif, wawancara mendalam dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan Program Pembinaan di LPKA Kelas II Jakarta dalam dimensi standar praktik terbaik berjalan sesuai SOP, kebijakan lembaga berjalan sesuai ketentuan, pada tujuan proses jangka panjang dan jangka pendek sudah terlaksana. Dalam dimensi kepuasan klien kualitas layanan sudah terpenuhi dan pihak LPKA Kelas II Jakarta sudah menerapkan sistem manajemen pelayanan pendidikan yang baik dengan memberlakukan pembinaan yang adil dan tidak membeda-bedakan. Dapat disimpulkan bahwa program pembinaan yang berlangsung sudah berjalan sesuai ketentuan dan standar yang berlaku dengan terlaksananya tujuan proses serta terpenuhinya pelayanan pendidikan yang inklusif. Dengan tidak adanya pekerja sosial di bidang koreksional pada LPKA Kelas I","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":"69 s279","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139146029","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-12-29DOI: 10.15408/empati.v12i2.34146
J. Astutik, Budi Suprapto, Zaenal Abidin, Mohd Haizzan Yahaya
Abstract. This research aims to find a model of family participation with children with disabilities in realising an inclusive society in Ngawonggo Village, Tajinan District, Malang Regency. This research was conducted with a qualitative approach of the descriptive type. The research subjects were determined by the purposive method. Data collection techniques were carried out by observation and interview. Data analysis was conducted using the interactive model (Milles and Huberman). The results showed that the forms of family participation with children with disabilities include: 1) Participation in decision-making, 2). Participation in implementation, 3) Participation in benefits, and 4) Participation in evaluation. with socialisation programs, family parenting and therapy, can create an inclusive society, such as: 1) Religious and community leaders understand the importance of supporting the growth and development of children with disabilities, 2) The community treats children with disabilities as normal, 3) Children with disabilities can play and learn with normal peers, 4) There is support from the local government for children with disabilities through the allocation of the Village Fund Budget, 5) Parents with children with disabilities have gradually opened up and provided public access to their children. Keywords: Family Participation, Children with Disabilities, Inclusive Society. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model partisipasi keluarga dengan anak penyandang disabilitas dalam mewujudkan masyarakat inklusi di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Subjek penelitian ditentukan dengan metode purposif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif (Milles dan Huberman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk partisipasi keluarga dengan ABK antara lain: 1) Partisipasi dalam pengambilan keputusan, 2). Partisipasi dalam pelaksanaan, 3) Partisipasi dalam manfaat, dan 4) Partisipasi dalam evaluasi. Dengan adanya program sosialisasi, pola asuh keluarga dan terapi, dapat menciptakan masyarakat yang inklusif, seperti: 1) Tokoh agama dan tokoh masyarakat memahami pentingnya mendukung tumbuh kembang ABK, 2) Masyarakat memperlakukan ABK sama seperti anak normal lainnya, 3) ABK dapat bermain dan belajar bersama teman sebaya yang normal, 4) Adanya dukungan dari pemerintah daerah terhadap ABK melalui pengalokasian Anggaran Dana Desa, 5) Orang tua yang memiliki ABK berangsur-angsur membuka diri dan memberikan akses publik terhadap anaknya. Kata Kunci: Partisipasi keluarga, ABK, Masyarakat inklusif.
{"title":"FAMILY PARTICIPATION MODEL WITH CHILDREN WITH DISABILITIES IN REALISING AN INCLUSIVE SOCIETY","authors":"J. Astutik, Budi Suprapto, Zaenal Abidin, Mohd Haizzan Yahaya","doi":"10.15408/empati.v12i2.34146","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i2.34146","url":null,"abstract":"Abstract. This research aims to find a model of family participation with children with disabilities in realising an inclusive society in Ngawonggo Village, Tajinan District, Malang Regency. This research was conducted with a qualitative approach of the descriptive type. The research subjects were determined by the purposive method. Data collection techniques were carried out by observation and interview. Data analysis was conducted using the interactive model (Milles and Huberman). The results showed that the forms of family participation with children with disabilities include: 1) Participation in decision-making, 2). Participation in implementation, 3) Participation in benefits, and 4) Participation in evaluation. with socialisation programs, family parenting and therapy, can create an inclusive society, such as: 1) Religious and community leaders understand the importance of supporting the growth and development of children with disabilities, 2) The community treats children with disabilities as normal, 3) Children with disabilities can play and learn with normal peers, 4) There is support from the local government for children with disabilities through the allocation of the Village Fund Budget, 5) Parents with children with disabilities have gradually opened up and provided public access to their children. Keywords: Family Participation, Children with Disabilities, Inclusive Society. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model partisipasi keluarga dengan anak penyandang disabilitas dalam mewujudkan masyarakat inklusi di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Subjek penelitian ditentukan dengan metode purposif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif (Milles dan Huberman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk partisipasi keluarga dengan ABK antara lain: 1) Partisipasi dalam pengambilan keputusan, 2). Partisipasi dalam pelaksanaan, 3) Partisipasi dalam manfaat, dan 4) Partisipasi dalam evaluasi. Dengan adanya program sosialisasi, pola asuh keluarga dan terapi, dapat menciptakan masyarakat yang inklusif, seperti: 1) Tokoh agama dan tokoh masyarakat memahami pentingnya mendukung tumbuh kembang ABK, 2) Masyarakat memperlakukan ABK sama seperti anak normal lainnya, 3) ABK dapat bermain dan belajar bersama teman sebaya yang normal, 4) Adanya dukungan dari pemerintah daerah terhadap ABK melalui pengalokasian Anggaran Dana Desa, 5) Orang tua yang memiliki ABK berangsur-angsur membuka diri dan memberikan akses publik terhadap anaknya. Kata Kunci: Partisipasi keluarga, ABK, Masyarakat inklusif.","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":"112 3","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"139146355","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-06-15DOI: 10.15408/empati.v12i1.31520
Thurfatul Munaa, Ismet Firdaus
Abstract. Former drug users as individuals who have used drugs have the possibility to experience craving or the desire to use drugs again which can result in relapse are former drug users. Peers as individuals who are close to former drug users have a big role in their lives. This study aims to determine whether there is an influence of peer attachment to craving former drug user. The research applied a quantitative approach. In taking the sample, the researchers used a saturated sample technique because the population of former drug users at the Mutiara Maharani Jakarta Foundation was less than 100, namely 21 people. Data collected using a questionnaire whose validity and reliability have been tested. The data that has been collected, analyse with the program SPSS for windows 29.0 and processed using simple linear regression analysis. The research results show the value of tcount (-0.158) smaller than ttable (2.093) with a significance value of 0.876 which is higher than 0.05. Therefore, H1 rejected and H0 accepted, meaning that there is no significant effect between peer attachment and craving former drug user. Peer attachment has an effect of 0.1% on craving former drug users while 99.9% influenced by variables outside the study. Keywords: Peer attachment, craving, former drugs user. Abstrak. Mantan pengguna narkoba sebagai individu yang pernah menggunakan narkoba memiliki kemungkinan untuk mengalami craving atau keinginan menggunakan narkoba kembali yang dapat berakibat pada relapse-nya para mantan pengguna narkoba. Teman sebaya sebagai individu yang dekat dengan mantan pengguna narkoba memiliki peran besar dalam kehidupannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui adakah pengaruh kelekatan teman sebaya terhadap craving mantan pengguna narkoba. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Dalam pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik sampel jenuh karena populasi mantan pengguna narkoba di Yayasan Mutiara Maharani Jakarta kurang dari 100 yaitu berjumlah 21 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang validitas dan reliabilitasnya telah teruji. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan bantuan program SPSS for windows 29.0 dan diolah dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukan nilai thitung (-0,158) lebih kecil dari ttabel (2,093) dengan nilai signifikansi 0.876 yang lebih tinggi dari 0.05. Oleh karena itu, H1 ditolak dan H0 diterima artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kelekatan teman sebaya dengan craving mantan pengguna narkoba. Kelekatan teman sebaya memberikan pengaruh sebesar 0,1% terhadap craving mantan pengguna narkoba sedangkan 99,9% dipengaruhi oleh variabel di luar penelitian. Kata Kunci: Kelekatan teman sebaya, craving, mantan pengguna narkoba.
摘要曾经使用过毒品的人有可能经历渴望或再次使用毒品的欲望,这可能导致复发,他们是曾经的吸毒者。与前吸毒者关系密切的同伴在他们的生活中扮演着重要的角色。本研究旨在确定同伴依恋是否对渴望前吸毒者有影响。这项研究采用了定量方法。在采集样本时,研究人员使用了饱和样本技术,因为Mutiara Maharani雅加达基金会的前吸毒者人数不到100人,即21人。数据收集使用问卷,其有效性和信度已经过测试。收集到的数据,使用SPSS for windows 29.0软件进行分析,并使用简单的线性回归分析进行处理。研究结果表明,tcount值(-0.158)小于表值(2.093),显著性值为0.876,高于0.05。因此,H1拒绝和H0接受,意味着同伴依恋与渴望前吸毒者之间没有显著影响。同伴依恋对渴望前吸毒者的影响为0.1%,而受研究外变量的影响为99.9%。关键词:同伴依恋,渴望,前吸毒者。Abstrak。Mantan pengguna narkoba sebagai个人yang pernah menggunakan narkoba memoriliki kemungkinan untuk mengalami渴望keinginan menggunakan narkoba kembali yang dapat berakibat pada复发-nya para Mantan pengguna narkoba。Teman sebaya sebagai个人yang dekat dengan mantan pengguna narkoba memiliki peran besar dalam kehidupannya。Penelitian ini bertujuan mengetahui adakah pengaruh kelekatan teman sebaya terhadap渴望mantan pengguna narkoba。Pendekatan dalam penelitian ini adalah kuantitatif。印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚,印度尼西亚数据分析的有效性和信度与日本的teruji相似。数据杨telah terkumpul分析登干班团程序SPSS for windows 29.0丹diolah登干menggunakan分析回归线性分析。Hasil penelitian menunjukan nilai thitung (-0,158) lebih kecil dari ttabel (2,093) dengan nilai显著性0.876 yang lebih tinggi dari 0.05。Oleh karena itu, H1 ditolak dan H0 diterima artinya tidak terdapat pengaruh yang signfikan antara kelekatan teman sebaya dengan渴望mantan pengguna narkoba。Kelekatan毯螅sebaya memberikan pengaruh sebesar 0, 1% terhadap渴望mantan pengguna narkoba而99,9% dipengaruhi oleh pokalchuk variabel di luar penelitian。Kelekatan teman sebaya,渴望,mantan pengguna narkoba。
{"title":"PENGARUH KELEKATAN TEMAN SEBAYA TERHADAP CRAVING MANTAN PENGGUNA NARKOBA DI YAYASAN MUTIARA MAHARANI JAKARTA","authors":"Thurfatul Munaa, Ismet Firdaus","doi":"10.15408/empati.v12i1.31520","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i1.31520","url":null,"abstract":"Abstract. Former drug users as individuals who have used drugs have the possibility to experience craving or the desire to use drugs again which can result in relapse are former drug users. Peers as individuals who are close to former drug users have a big role in their lives. This study aims to determine whether there is an influence of peer attachment to craving former drug user. The research applied a quantitative approach. In taking the sample, the researchers used a saturated sample technique because the population of former drug users at the Mutiara Maharani Jakarta Foundation was less than 100, namely 21 people. Data collected using a questionnaire whose validity and reliability have been tested. The data that has been collected, analyse with the program SPSS for windows 29.0 and processed using simple linear regression analysis. The research results show the value of tcount (-0.158) smaller than ttable (2.093) with a significance value of 0.876 which is higher than 0.05. Therefore, H1 rejected and H0 accepted, meaning that there is no significant effect between peer attachment and craving former drug user. Peer attachment has an effect of 0.1% on craving former drug users while 99.9% influenced by variables outside the study. Keywords: Peer attachment, craving, former drugs user. Abstrak. Mantan pengguna narkoba sebagai individu yang pernah menggunakan narkoba memiliki kemungkinan untuk mengalami craving atau keinginan menggunakan narkoba kembali yang dapat berakibat pada relapse-nya para mantan pengguna narkoba. Teman sebaya sebagai individu yang dekat dengan mantan pengguna narkoba memiliki peran besar dalam kehidupannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui adakah pengaruh kelekatan teman sebaya terhadap craving mantan pengguna narkoba. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Dalam pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik sampel jenuh karena populasi mantan pengguna narkoba di Yayasan Mutiara Maharani Jakarta kurang dari 100 yaitu berjumlah 21 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang validitas dan reliabilitasnya telah teruji. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan bantuan program SPSS for windows 29.0 dan diolah dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukan nilai thitung (-0,158) lebih kecil dari ttabel (2,093) dengan nilai signifikansi 0.876 yang lebih tinggi dari 0.05. Oleh karena itu, H1 ditolak dan H0 diterima artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kelekatan teman sebaya dengan craving mantan pengguna narkoba. Kelekatan teman sebaya memberikan pengaruh sebesar 0,1% terhadap craving mantan pengguna narkoba sedangkan 99,9% dipengaruhi oleh variabel di luar penelitian. Kata Kunci: Kelekatan teman sebaya, craving, mantan pengguna narkoba.","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":"4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130110624","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Pub Date : 2023-06-15DOI: 10.15408/empati.v12i1.31786
Abu Huraerah, R. Nurwulan, Peter Voo
Abstract. The purpose of this study are to describe the elements that influence local culture and local culture that supports community development at Banceuy, Sanca Village, Ciater District, Subang Regency, West Java Province. This study uses a qualitative descriptive research method with a case study approach. Primary data collection techniques include interviews, observation, document study and focus group discussions. Meanwhile, secondary data sources were obtained through searching various references such as books and journals. The informant selection technique was carried out through purposive sampling. The validity of the data using triangulation of sources and data analysis techniques through data reduction, data display and conclusion/verification. In detail, data analysis uses the coding manual consists of open coding, axial coding, and selective coding. The main factors influencing local culture at Banceuy, Sanca Village, Ciater District, Subang Regency, West Java Province are geography, natural charm, history, and economy. Meanwhile, the local culture for community development are ritual, art, environmental tourism, mutual cooperation, and cultural tourism. Local culture can be a driving force in community development and should be considered in making development policies in the region. Local culture is a community cultural heritage that can support the community's economy. Local culture can be used as a participatory approach in community development. Keywords: Model, local cultur, community development. Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur-unsur yang mempengaruhi budaya lokal dan mendeskripsikan budaya lokal yang mendukung pengembangan masyarakat di Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data primer meliputi wawancara, observasi, studi dokumen dan diskusi kelompok terarah. Sementara, sumber data sekunder diperoleh dengan mencari berbagai referensi seperti buku dan jurnal. Teknik pemilihan informan dilakukan melalui purposive sampling. Validitas datas menggunakan triangulasi sumber dan teknik analisis data melalui reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Secara rinci, analisis data menggunakan koding secara manual, yaitu open coding, axial coding dan selective coding. Faktor utama yang mempengaruhi budaya lokal di Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat adalah geografi, pesona alam, sejarah dan ekonomi. Sementara, budaya lokal untuk pengembangan masyarakat adalah ritual, kesenian, wisata lingkungan, gotong-royong dan wisata budaya. Budaya lokal dapat menjadi pendorong dalam pengembangan masyarakat dan hendaknya menjadi pertimbangan dalam pembuatan kebijakan pembangunan di daerah. Budaya lokal merupakan warisan budaya masyarakat yang dapat menunjang ekonomi masyarakat. Budaya lokal dapat digun
摘要本研究的目的是描述影响当地文化的因素,以及支持西爪哇省苏邦县Ciater区sana村Banceuy社区发展的当地文化。本研究采用定性描述性研究方法,结合个案研究方法。主要数据收集技术包括访谈、观察、文献研究和焦点小组讨论。同时,通过查找各种参考文献,如书籍和期刊,获得辅助数据源。信息者选择技术是通过有目的的抽样进行的。通过数据简化、数据显示和结论/验证,使用来源三角测量和数据分析技术来确定数据的有效性。数据分析使用的编码手册包括开放编码、轴向编码和选择性编码。影响西爪哇省苏邦县恰特区桑卡村班西当地文化的主要因素是地理、自然风光、历史和经济。同时,社区发展的地方文化是仪式、艺术、环境旅游、互助旅游和文化旅游。当地文化可以成为社区发展的推动力,在制定该地区的发展政策时应予以考虑。地方文化是一种社区文化遗产,可以支撑社区经济。地方文化可以作为社区发展的一种参与性方法。关键词:模式,地方文化,社区发展。Abstrak。Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur-unsur yang mempengaruhi budaya local dan mendeskripsikan budaya local yang menddukung pengembangan masyarakat di Banceuy, Desa sana, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang,省爪哇巴拉特。Penelitian ini menggunakan方法Penelitian描述定性的denan Penelitian研究的原因。中国人口普查数据基础设施、观测资料、研究文献和研究文献。[2]沈文杰,《中国农业大学学报》,《中国农业大学学报》。技术人员进行了有目的的抽样。验证数据、三角数据、三角数据、三角数据、三角数据、三角数据、三角数据、三角数据、三角数据、三角数据。Secara rinci,数据分析孟古那坎编码Secara手册,yyitu开放式编码,轴向编码和选择性编码。我的工作是,我的家乡,我的家乡,我的家乡,我的家乡,我的家乡,我的家乡。Sementara, budaya当地untuk pengembangan masyarakat adalah仪式,kesenian, wisata lingkungan, goong -royong dan wisata budaya。Budaya当地的dapat menjadi pendorong dalam pengembangan masyarakat dan hendaknya menjadi pertimbangan dalam pembuatan kebijakan pembangunan di daerah。Budaya当地merupakan warisan Budaya masyarakat yang dapat menunjang economi masyarakat。Budaya地方dapat digunakan sebagai pendekatan partisipatif dalam pengembangan masyarakat。Kata kunci:模型,budaya本地人,pengembangan masyarakat。
{"title":"LOCAL CULTURE-BASED COMMUNITY DEVELOPMENT IN SUBANG REGENCY, WEST JAVA","authors":"Abu Huraerah, R. Nurwulan, Peter Voo","doi":"10.15408/empati.v12i1.31786","DOIUrl":"https://doi.org/10.15408/empati.v12i1.31786","url":null,"abstract":"Abstract. The purpose of this study are to describe the elements that influence local culture and local culture that supports community development at Banceuy, Sanca Village, Ciater District, Subang Regency, West Java Province. This study uses a qualitative descriptive research method with a case study approach. Primary data collection techniques include interviews, observation, document study and focus group discussions. Meanwhile, secondary data sources were obtained through searching various references such as books and journals. The informant selection technique was carried out through purposive sampling. The validity of the data using triangulation of sources and data analysis techniques through data reduction, data display and conclusion/verification. In detail, data analysis uses the coding manual consists of open coding, axial coding, and selective coding. The main factors influencing local culture at Banceuy, Sanca Village, Ciater District, Subang Regency, West Java Province are geography, natural charm, history, and economy. Meanwhile, the local culture for community development are ritual, art, environmental tourism, mutual cooperation, and cultural tourism. Local culture can be a driving force in community development and should be considered in making development policies in the region. Local culture is a community cultural heritage that can support the community's economy. Local culture can be used as a participatory approach in community development. Keywords: Model, local cultur, community development. Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur-unsur yang mempengaruhi budaya lokal dan mendeskripsikan budaya lokal yang mendukung pengembangan masyarakat di Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data primer meliputi wawancara, observasi, studi dokumen dan diskusi kelompok terarah. Sementara, sumber data sekunder diperoleh dengan mencari berbagai referensi seperti buku dan jurnal. Teknik pemilihan informan dilakukan melalui purposive sampling. Validitas datas menggunakan triangulasi sumber dan teknik analisis data melalui reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Secara rinci, analisis data menggunakan koding secara manual, yaitu open coding, axial coding dan selective coding. Faktor utama yang mempengaruhi budaya lokal di Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat adalah geografi, pesona alam, sejarah dan ekonomi. Sementara, budaya lokal untuk pengembangan masyarakat adalah ritual, kesenian, wisata lingkungan, gotong-royong dan wisata budaya. Budaya lokal dapat menjadi pendorong dalam pengembangan masyarakat dan hendaknya menjadi pertimbangan dalam pembuatan kebijakan pembangunan di daerah. Budaya lokal merupakan warisan budaya masyarakat yang dapat menunjang ekonomi masyarakat. Budaya lokal dapat digun","PeriodicalId":403045,"journal":{"name":"EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial","volume":"17 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128533092","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}